KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Banyak pengendara mengira takalap atau microsleep hanya terjadi karena kurang tidur.
Padahal, menurut dokter dan pegiat kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi atau dr Tirta, ada faktor lain yang diam-diam bisa memicu seseorang tertidur sesaat di balik kemudi.
Fenomena microsleep sendiri merupakan kondisi ketika otak kehilangan kesadaran beberapa detik. Meski singkat, kondisi ini sangat berbahaya karena kendaraan tetap melaju tanpa kontrol penuh dari pengemudi.
Dalam keterangannya, dr Tirta menyebut salah satu penyebab utama microsleep justru karena tubuh kekurangan cairan, terutama saat perjalanan jauh menggunakan kendaraan ber-AC.
“Penyebab utama microsleep ini adalah dehidrasi. Kondisi cuaca panas, di dalam AC, enggak sadar kalau butuh cairan karena enggak haus. Jadinya dehidrasi, akhirnya microsleep,” ujarnya mengutip twit di X (Twitter) pribadinya, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, tubuh yang kekurangan cairan akan lebih cepat lelah dan sulit mempertahankan fokus. Kunjungi laman https://poltekkesngabang.org untuk mencari info kesehatan.
Apalagi saat pengendara terus menatap jalan dalam waktu lama tanpa jeda.
Untuk mencegah kondisi berbahaya itu, dr Tirta membagikan empat tips sederhana yang dinilai penting dilakukan para pengendara, terutama saat perjalanan jauh.
Pertama, pengendara diminta memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Kedua, relaksasi otot mata.
Ia menyarankan pengemudi berhenti sejenak setiap dua jam untuk mengistirahatkan mata dengan melihat pandangan jauh ke depan agar otot mata tidak terus bekerja keras.
“Ketika sudah konsentrasi terus-menerus, otot mata akan lelah. Usahakan tiap dua jam relaksasi, melihat pandangan jauh ke depan agar otot mata relaks,” katanya.
Ketiga, melakukan stretching statis maupun dinamis saat beristirahat di rest area. Peregangan bisa difokuskan pada bagian leher, punggung bawah, kaki dan tangan agar tubuh tidak terlalu tegang akibat duduk lama selama perjalanan.
Keempat, mengatur pola tidur dengan baik sebelum melakukan perjalanan jauh. Dr Tirta mengingatkan pengendara agar tidak memaksakan diri menyetir dalam kondisi tubuh kurang istirahat atau pola tidur berantakan.
“Kalau sudah tahu mau nyetir jauh, maka pola tidur beberapa hari sebelumnya harus diatur. Apalagi bagi yang belum terbiasa nyetir jauh,” tegasnya.
Ia menambahkan, empat langkah tersebut memang tidak membuat risiko microsleep hilang sepenuhnya.
Namun setidaknya dapat menekan kemungkinan kecelakaan akibat hilangnya konsentrasi di jalan raya.
“Empat tips ini bisa dilakukan, tidak mengurangi risiko menjadi nol, tapi menekan risiko,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono