Beras shirataki dan beras porang kini makin mudah ditemukan di supermarket hingga marketplace online. Keduanya sering dipromosikan sebagai alternatif nasi sehat untuk diet dan penderita diabetes. Namun ternyata, masih banyak orang yang mengira kedua jenis beras ini sama persis.
Padahal, shirataki dan porang berasal dari tanaman yang berbeda. Shirataki dibuat dari akar tanaman konjac asal Jepang, sedangkan porang berasal dari tanaman umbi asli Indonesia bernama Amorphophallus muelleri.
Meski berbeda asal tanaman, keduanya sama-sama mengandung glukomanan, yaitu serat alami yang dipercaya membantu mengontrol gula darah dan menekan rasa lapar. Karena kandungan seratnya tinggi, kedua jenis beras ini juga rendah kalori dibanding nasi putih biasa.
Berikut perbedaan utama beras shirataki dan porang:
- Shirataki berasal dari tanaman konjac
- Porang berasal dari umbi porang asli Indonesia
- Porang punya kadar glukomanan lebih tinggi
- Keduanya rendah kalori dan tinggi serat
- Sama-sama cocok untuk diet dan diabetes
Selain membantu mengontrol berat badan, glukomanan juga dipercaya baik untuk kesehatan pencernaan karena bekerja mirip serat alami. Bahkan beberapa penelitian menyebut kandungan ini dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dan menjaga kesehatan usus.
Meski dianggap lebih sehat, konsumsi shirataki dan porang tetap perlu dibarengi pola makan bergizi seimbang. Ahli kesehatan juga menyarankan masyarakat tetap memenuhi kebutuhan protein, vitamin, dan mineral agar tubuh tidak kekurangan nutrisi penting.
Di tengah meningkatnya kesadaran hidup sehat, kehadiran shirataki dan porang menjadi alternatif menarik bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi nasi putih tanpa harus kehilangan sensasi makan “nasi” sehari-hari.
Editor : Ayu Oktaviana