Saat Nyeri Dada, Dokter Tidak Sarankan untuk Kerokan
Ismail• Kamis, 11 Juni 2026 | 12:30 WIB
Atlet lompat jauh Indonesia Setiyo Budi Hartono menunjukkan punggungnya yang penuh dengan kerokan usai menyelesaikan lomba ASEAN Para Games 2022 di Stadion Manahan, Solo, Jumat (5/8/2022). FOTO ANTARA/BAYU KUNCAHYOJAKARTA – Metode pengobatan tradisional ‘kerokan” tidak disarankan untuk pertolongan pertama mengatasi nyeri dada. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC menyarankan pertolongan pertama, menenangkan penderita, kemudian memberikan oksigen dan secepatnya membawa ke fasilitas kesehatan.“Jangan, karena pada saat kita kerok sebenarnya pembuluh darah yang di permukaan kulit itu pecah, jadi merah itu adalah pembuluh darah. Ada macam-macam pembuluh darah ada yang di dalam,” kata Febtusia, saat temu media di Jakarta, pada Selasa .Justru, kata dokter yang berafiliasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) itu, metode kerokan yang biasanya diberi balsem akan membuat suatu penekanan pada otot.Menurut dia, kerokan yang dibaluri dengan balsem dapat melebarkan pembuluh darah, tetapi hanya berlangsung sementara, tidak mengatasi penyebab keluhan termasuk jika terdapat sumbatan pada pembuluh darah.Nah, sensasi nyaman kerokan justru dipicu dari efek hangatnya penggunaan balsem. Rasa nyaman setelah kerokan juga dapat dipengaruhi karena dipicu sugesti.“Kalau balsam itu kan hangat. Pada saat tubuh itu udah hangat, maka pembuluh darah itu akan melebar efeknya, tapi secara instan dan tidak panjang efek itu. Sedangkan obat-obatan misalnya pengencer darah itu efeknya long term. Jadi kalau balsam dia hanya short expect aja,” ujar dia.Dokter Febtusia menyampaikan kiat yang bisa dilakukan ketika orang terdekat mengalami nyeri dada atau sesak napas, salah satunya membantu menenangkannya.“Kalau orang itu cemas, gerasak gerusuk malah akan memperberat. Yang pasti adalah membuat orang itu tenang, misalnya dia pakai dasi kita longgarkan. Pokoknya membuat dia nyaman dulu,” imbuh dia.Kemudian, pemberian oksigen jika tersedia juga dapat dilakukan sebagai bantuan awal karena dapat membantu memperbaiki kondisi melebarkan pembuluh darah, kemudian sambil mempersiapkan untuk dibawa fasilitas kesehatan terdekat untuk monitoring.Febtusia menyampaikan tanda nyeri dada yang perlu segera dilakukan pemeriksaan medis lantaran berisiko picu penyakit kardiovaskular, seperti angin duduk.Angin duduk atau istilah medis Angina pektoris merupakan kondisi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup, ditandai dengan salah satu gejala utamanya berupa nyeri dada.“Kalau nyeri dada yang dengan ada perubahan posisi itu biasanya bukan dari jantung. Tapi kalau misalnya dia enggak bisa pointing (mengarah) 'kok makin lama makin intensitasnya makin sering ya', disertai dengan keluhan yang lain (sesak napas, mual, keringat dingin), itu harus kita waspadai,” ujar dia.(ant) Editor : Ayu Oktaviana