KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Era digital seperti sekarang berbagai konten hiburan dapat dengan mudah diakses. Sayangnya, kemudahan itu juga terjadi pada konten pornografi. Paparan pornografi ternyata berbahaya bagi mental dan otak.
Menurut Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, Prof. Zulys, dampaknya terhadap otak bisa berlangsung jauh lebih lama. Paparan yang terus-menerus disebut mampu mengikis kemampuan fokus, mengendalikan diri, hingga menurunkan produktivitas seseorang tanpa disadari.
Hal itu disampaikan Prof. Zulys dalam konten edukasi Behind the Science yang diunggah melalui akun TikTok @prof.zulys.
Ia menjelaskan, secara ilmiah otak manusia memang memiliki kecenderungan menyukai hal-hal baru, menyenangkan, dan berkaitan dengan reproduksi. Pornografi, menurutnya, memadukan ketiga unsur tersebut sekaligus.
“Pornografi tidak membunuhmu hari ini, tapi diam-diam mencuri fokusmu, motivasimu, bahkan masa depanmu,” katanya dikutip, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, setiap kali seseorang mengakses pornografi, otak akan melepaskan dopamin atau hormon yang memunculkan rasa senang dan keinginan untuk mengulangi perilaku tersebut.
Masalahnya, internet menyediakan rangsangan tanpa batas sehingga otak terus-menerus mendapat paparan yang semakin beragam.
“Menurut sains, otak manusia itu dirancang menyukai tiga hal. Hal yang baru, sesuatu yang menyenangkan, dan sesuatu yang berkaitan dengan reproduksi. Dan pornografi menggabungkan ketiganya. Setiap kali melihat pornografi, otak melepaskan dopamin, hormon yang membuat kita ingin mengulanginya lagi dan lagi,” ujarnya.
Prof. Zulys mengatakan kondisi tersebut dapat menyebabkan desensitisasi, yakni penurunan sensitivitas otak terhadap rangsangan. Akibatnya, seseorang membutuhkan durasi yang lebih lama maupun konten yang lebih ekstrem untuk memperoleh sensasi yang sebelumnya sudah didapatkan.
Ia menambahkan, sejumlah penelitian juga menemukan adanya perubahan pada prefrontal cortex, bagian otak yang berperan mengendalikan diri serta mengatur emosi.
Bahkan, penelitian dari Max Planck Institute, Jerman, menunjukkan semakin tinggi konsumsi pornografi, semakin lemah hubungan antara pusat penghargaan atau reward center dengan pusat kontrol diri di otak.
“Sederhananya, mesin nafsunya makin besar, rem pengendalinya makin tipis. Akibatnya, belajar terasa membosankan, menghapal pelajaran terasa berat, hubungan sosial terasa hambar, dan hidup makin dikuasai kesenangan instan,” jelasnya.
Cara Mengatasi Kecanduan Pornografi
Menurut Prof. Zulys, dampak tersebut dapat diatasi dengan memutus akses terhadap berbagai pemicu pornografi. Mulai dari akun media sosial, situs internet, hingga grup yang menyebarkan konten serupa. Ia juga menilai pemerintah memiliki peran penting dalam melindungi masyarakat, terutama generasi muda, dari paparan konten pornografi.
“Pertama, putuskan pemicunya, akunnya, websitenya, grup-grupnya, kontennya. Ini bukan pekerjaan kita saja, tapi juga pekerjaan instansi pemerintah. Bekerja langsung. Salah untuk melindungi anak bangsa,” tuturnya.
Selain itu, ia mengajak masyarakat mengganti sumber dopamin dengan aktivitas yang lebih sehat, seperti berolahraga, berkarya, menuntut ilmu, serta aktif dalam kegiatan sosial. Bagi umat Islam, ia juga menganjurkan memperkuat ibadah sebagai salah satu cara mengendalikan diri.
“Kedua, ganti sumber dopamin dengan olahraga, karya, ilmu, dan aktivitas sosial. Ketiga, dekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah, puasa, dan zikir. Selain menenangkan hati, ia juga memberikan kebahagiaan sejati,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, Prof. Zulys mengingatkan bahwa kenikmatan yang ditawarkan pornografi hanya bersifat sesaat, sedangkan dampaknya dapat menghambat produktivitas dalam jangka panjang. Ia mengajak masyarakat memanfaatkan kemampuan otak untuk menciptakan karya dan inovasi yang lebih bermanfaat.
“Pornografi menjanjikan kenikmatan beberapa menit, tapi bisa mencuri produktivitas bertahun-tahun. Ingatlah, nikmatnya sesaat, azabnya abadi. Sabarlah dalam ketaatan pada Allah. Susahnya sesaat, pahalanya abadi. Jangan biarkan algoritma menentukan masa depan. Otak kita dirancang untuk membuat karya, menemukan obat kanker, membuat video ini menjadi lebih menarik, atau menjadikan program MBG sebagai program berdampak, bukan bancakan,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono