PALANGKA RAYA – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mengajak masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kejadian luar biasa (KLB) kabut asap seiring memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes telah menyiapkan dua rumah singgah oksigen, posko kesehatan, hingga dukungan medis bagi petugas pemadam apabila kondisi asap semakin parah.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, dr. Mikko Uriamapas mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah agar dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.
“Ya, bila udara semakin memburuk, kami sudah menyiapkan fasilitas oksigen untuk keadaan darurat,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (27/7/2026).
Menurut Mikko, pada tahap awal rumah singgah oksigen akan dibuka di dua lokasi yang telah ditetapkan. Keberadaan fasilitas tersebut akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi kualitas udara di Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Kabut Asap Tercium Menyengat Palangka Raya, Hotspot Juli 2026 Melonjak hingga 1.848 Titik
“Dua tempat dulu, sambil melihat keadaan,” katanya.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga telah menyiapkan posko kesehatan yang dilengkapi obat-obatan dan masker untuk mendukung penanganan apabila kualitas udara terus menurun.
Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Satgas Karhutla dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada personel yang bertugas di Posko Tumbang Nusa. Dukungan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan bagi personel BPBD, TNI, Polri, serta penyediaan obat-obatan dan masker.
Mikko mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu hingga kabut asap semakin pekat untuk mulai melindungi diri. Menurutnya, kesiapan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau.
Ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki kepentingan mendesak, menggunakan masker saat berada di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menutup ventilasi ketika kabut asap mulai pekat.
Masyarakat juga diminta segera mendatangi puskesmas atau fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri dada, sesak napas, maupun gangguan pernapasan lainnya.
Secara khusus, Mikko mengingatkan kelompok rentan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap.
“Khususnya yang mempunyai penyakit jantung koroner, asma bronkial, dan penyakit paru menahun agar lebih banyak beraktivitas di dalam rumah,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi di Kalimantan Tengah, yakni 12.394 kasus. Disusul Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 12.023 kasus, dan Kabupaten Kapuas sebanyak 9.602 kasus.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan kualitas udara di Kota Palangka Raya mulai memasuki kategori tidak sehat. Hingga pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2,5 tercatat mencapai 138 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sedangkan kualitas udara di Pangkalan Bun masih berada dalam kategori baik.
Prakirawan BMKG Palangka Raya, Neng Arini, menjelaskan meningkatnya konsentrasi PM2,5 dipengaruhi oleh kebakaran hutan dan lahan serta kondisi musim kemarau yang menyebabkan potensi hujan semakin berkurang.
“Perlu diwaspadai potensi penurunan kualitas udara akibat peningkatan polusi udara yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Mikko berharap seluruh masyarakat menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk meningkatkan kewaspadaan dan disiplin menerapkan langkah-langkah perlindungan diri. Dengan kesiapan sejak dini, diharapkan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan meskipun musim kemarau dan potensi karhutla masih berlangsung.(*)
Editor : Agus Pramono