Dokter Ungkap Bahaya Anak Dipakai Promosikan Vape, Nikotin Disebut Bisa Ganggu Perkembangan Otak

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:03 WIB
Pengguna vape. AGUS PRAMONO/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Pengguna vape. (Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)

 KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Polemik dugaan pelibatan anak di bawah umur dalam promosi produk vape terus menuai perhatian. Kali ini, dokter sekaligus pegiat edukasi kesehatan, dr. Adam Prabata, mengingatkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar pelanggaran etika, tetapi juga menyangkut risiko kesehatan serius bagi anak-anak.

Melalui akun X (Twitter) @adamprabata, dr. Adam menjelaskan ada sejumlah alasan mengapa publik patut menolak keras keterlibatan anak dalam promosi rokok elektronik. 

Menurutnya, nikotin yang terkandung dalam vape dapat memberikan dampak langsung terhadap perkembangan otak anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan.

Baca Juga: Vape Juga Punya Kandungan Nikotin Seperti Rokok Konvensional

“Pada anak, nikotin dalam vape bisa bekerja langsung ke otak yang masih berkembang. Nikotin bisa mengganggu perkembangan otak anak, memengaruhi kontrol diri, kemampuan belajar, sampai risiko masalah perilaku. Bayangin, bisa ngaruh ke otak, taruhannya masa depan anaknya,” tulisnya, dikutip Jumat (31/7/2026).

Selain berdampak pada fungsi otak, dr. Adam menyebut cairan vape juga mengandung berbagai zat berbahaya, seperti formaldehida dan logam berat. Paparan zat tersebut berisiko merusak organ pernapasan hingga meningkatkan potensi terjadinya kanker.

“Vape bisa merusak paru anak. Cairan vape mengandung formaldehid dan logam berat, zat-zat yang bisa merusak paru-paru dan berpotensi menyebabkan kanker,” jelasnya.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa vape merupakan alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional. Berdasarkan hasil penelitian, remaja yang menggunakan vape justru memiliki peluang lebih besar untuk menjadi perokok aktif di kemudian hari.

“Penelitian nemuin bahwa remaja pengguna vape punya risiko hampir 3x lipat buat akhirnya jadi perokok tembakau aktif. Jadi anggapan vape itu jalan keluar dari rokok, sebenernya kebalik. Malah pada anak dan remaja, vape lebih sering jadi gerbang masuk ke rokok konvensional,” tulisnya.

Karena itu, dr. Adam menilai tindakan melibatkan anak dalam promosi vape tidak dapat dianggap sebagai hiburan atau konten biasa. Terlebih jika dilakukan oleh figur publik yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat.

“Jadi, udah cukup jelas ya kenapa kita harus kesel banget sama orang-orang, terutama yang punya power gede, dan malah digunakan untuk minta anak-anak promosiin vape?” Bebernya. 

Dalam unggahan tersebut, dr. Adam menyebut penjelasannya merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan RI serta publikasi ilmiah “Vaping and Harm in Young People: Umbrella Review”, yang membahas dampak penggunaan rokok elektronik terhadap kesehatan anak dan remaja.

Sebelumnya, jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya cuplikan siaran langsung yang diduga memperlihatkan YouTuber Bigmo meminta sejumlah anak di bawah umur menyebutkan salah satu merek liquid vape. 

Peristiwa itu memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk kreator edukasi Sadam Permana. Menyusul polemik tersebut, merek liquid vape TAZELAB menyatakan interaksi itu bukan bagian dari kampanye resmi perusahaan dan memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Bigmo. (*)

Editor : Agus Pramono
bahaya vape dampak vape vape kesehatan anak