Mengenal Kelakai, Sayuran Khas Kalimantan yang Kaya Zat Besi dan Nutrisi

Agus Pramono • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 12:00 WIB
Kelakai, sejuta manfaat.(Pemko Palangka Raya)
Kelakai, sejuta manfaat.(Pemko Palangka Raya)

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM– Pernah mendengar sayur kelakai? Tanaman paku-pakuan dengan nama latin Stenochlaena palustris ini mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat di luar Kalimantan. 

Namun, bagi masyarakat di Pulau Borneo, khususnya Kalimantan Tengah, kelakai sudah lama dikenal sebagai salah satu sayuran lokal yang mudah ditemukan di kawasan rawa dan lahan gambut.

Kelakai tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Masyarakat Dayak secara turun-temurun juga mengenal tanaman ini dalam pengobatan tradisional untuk membantu mengatasi sejumlah keluhan kesehatan.

Daun kelakai muda umumnya memiliki warna merah tua hingga kemerahan, sedangkan daun yang lebih tua berwarna hijau. Tanaman ini dapat tumbuh merambat hingga beberapa meter dan banyak ditemukan di kawasan hutan rawa.

Keberadaan kelakai yang mudah dijumpai membuat sayuran ini menjadi salah satu sumber pangan lokal yang relatif ekonomis. Selain rasanya khas, kelakai juga mengandung sejumlah nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Kaya Zat Besi dan Beragam Nutrisi

Kelakai mengandung berbagai zat gizi, antara lain protein, kalsium, vitamin A, vitamin C, beta-karoten, kalium, fosfor, mangan, serta zat besi.

Tanaman ini juga mengandung sejumlah senyawa bioaktif, seperti flavonoid, tanin, steroid, dan alkaloid.

Kandungan tersebut membuat kelakai menarik untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pangan lokal bergizi. Salah satu kandungan yang paling sering dikaitkan dengan kelakai adalah zat besi yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin.

Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Karena itu, makanan yang mengandung zat besi dapat menjadi bagian dari pola makan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.

Namun, kelakai sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti terapi medis bagi penderita anemia. Jika seseorang mengalami gejala kurang darah atau kadar hemoglobin rendah, pemeriksaan dan penanganan tenaga kesehatan tetap diperlukan.

1. Berpotensi Membantu Memenuhi Kebutuhan Zat Besi

Salah satu alasan kelakai populer sebagai sayuran tradisional adalah kandungan zat besinya.

Zat besi dibutuhkan tubuh dalam proses pembentukan hemoglobin. Kekurangan zat besi dapat meningkatkan risiko anemia defisiensi besi yang biasanya ditandai dengan keluhan seperti mudah lelah, lemas, pucat, atau pusing.

Mengonsumsi makanan sumber zat besi, termasuk sayuran lokal seperti kelakai, dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang.

Kandungan vitamin C di dalam makanan juga diketahui membantu penyerapan zat besi jenis tertentu dari bahan pangan nabati.

2. Mengandung Antioksidan

Kelakai juga memiliki kandungan senyawa antioksidan, termasuk kelompok flavonoid dan senyawa fenolik.

Antioksidan berperan membantu melindungi sel tubuh dari dampak stres oksidatif akibat radikal bebas.

Meski demikian, konsumsi kelakai tentu bukan satu-satunya cara menjaga tubuh dari paparan radikal bebas. Pola makan beragam dengan memperbanyak sayur dan buah, aktivitas fisik, istirahat cukup, serta menghindari rokok tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.

3. Secara Tradisional Dikonsumsi Ibu Pascamelahirkan

Kelakai juga memiliki tempat tersendiri dalam tradisi pangan masyarakat Kalimantan.

Di sejumlah daerah, daun kelakai muda secara turun-temurun dikonsumsi oleh perempuan setelah melahirkan. Tanaman ini dipercaya membantu pemulihan tubuh dan mendukung produksi ASI.

Namun, klaim kelakai sebagai pelancar ASI masih perlu dilihat berdasarkan bukti ilmiah yang memadai. Bagi ibu menyusui yang mengalami masalah produksi ASI, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi tetap menjadi langkah yang dianjurkan.

4. Dikenal dalam Pengobatan Tradisional

Selain sebagai sayuran, kelakai telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional masyarakat Kalimantan.

Secara turun-temurun, tanaman ini antara lain digunakan untuk membantu mengatasi diare dan sejumlah keluhan kesehatan lainnya.

Kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, steroid, dan alkaloid menjadi salah satu alasan kelakai menarik perhatian dalam berbagai penelitian.

Meski begitu, penggunaan kelakai sebagai obat tidak seharusnya menggantikan pengobatan medis, terutama ketika seseorang mengalami penyakit atau gejala yang berat dan menetap.

5. Bisa Diolah Menjadi Beragam Hidangan

Keunggulan kelakai lainnya adalah cara pengolahannya yang cukup beragam.

Daun mudanya dapat dimasak menjadi sayur bening, ditumis dengan bawang merah, bawang putih, dan cabai, atau dicampurkan dalam masakan berkuah.

Kelakai juga dapat diolah menjadi keripik. Daunnya dibalut adonan tepung berbumbu kemudian digoreng hingga renyah.

Olahan tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi pangan lokal yang dapat meningkatkan nilai ekonomi kelakai sekaligus memperkenalkan sayuran khas Kalimantan kepada masyarakat yang lebih luas.

Kelakai, Pangan Lokal yang Bernilai Ekonomi

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pangan lokal, kelakai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh.

Tanaman yang mudah ditemukan di kawasan rawa dan gambut ini bukan hanya dapat menjadi sumber pangan keluarga, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.

Mulai dari sayur bening, tumisan, hingga keripik kelakai, berbagai olahan tersebut menunjukkan bahwa pangan tradisional Kalimantan dapat beradaptasi dengan selera masyarakat modern.

Kelakai pun menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan hayati Kalimantan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan yang terjangkau sekaligus memiliki nilai budaya.

Bagi masyarakat Kalimantan, kelakai bukan sekadar tanaman liar yang tumbuh di rawa. Sayuran ini merupakan bagian dari pengetahuan pangan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan kandungan nutrisi dan beragam potensi pemanfaatannya, kelakai layak mendapat perhatian sebagai salah satu kekayaan pangan lokal Kalimantan yang dapat terus dilestarikan dan dikembangkan.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
pengobatan tradisional kelakai pangan lokal