Mitos atau Fakta, Payudara Berubah Usai Menyusui, dr Indra Tarigan Menjawab

Agus Pramono • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:31 WIB
dr Indra Tarigan 
dr Indra Tarigan 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kekhawatiran bentuk payudara berubah setelah menyusui masih menjadi salah satu alasan yang membuat sebagian perempuan ragu memberikan ASI. 

Namun, dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) dr Indra Tarigan menyebut anggapan bahwa menyusui menjadi penyebab utama perubahan bentuk payudara atau kendur merupakan mitos.

Menurutnya, perubahan payudara sebenarnya sudah dimulai sejak masa kehamilan, jauh sebelum proses menyusui berlangsung.

“Proses perubahan dimulai saat hamil, payudara membesar. Saat menyusui tambah besar, dan setelah menyusui mengecil lagi,” ujar dr Indra Tarigan, dikutip dari YouTube @bumbee.collection.

Ia menjelaskan, perubahan bentuk payudara setelah melahirkan lebih berkaitan dengan proses kehamilan dan perubahan tubuh selama masa tersebut, bukan semata-mata karena aktivitas menyusui.

“Perubahan bentuk payudara itu bukan karena menyusui, tapi proses hamilnya dulu,” katanya.

Menyusui Bukan Penyebab Payudara Berubah

dr Indra mengatakan, masih banyak perempuan yang takut menyusui karena khawatir bentuk payudaranya menjadi kendur atau berubah secara permanen.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari pemberian ASI.

“Kalau mau tetap kencang, harus olahraga dan didukung nutrisi. Menyusui bukan merubah bentuk payudara, itu mitos,” tegasnya.

Karena itu, perempuan yang mengalami perubahan bentuk payudara setelah kehamilan dan menyusui tidak perlu langsung menyalahkan proses menyusui. Perubahan ukuran dan bentuk merupakan bagian dari perubahan tubuh yang terjadi selama kehamilan hingga setelah masa menyusui.

“Banyak yang takut menyusui karena takut berubah. Padahal tidak. Jangan jadi ketakutan,” pesannya.

Payudara Berangsur Menyesuaikan Setelah Menyusui

Setelah masa menyusui berakhir, payudara membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan produksi ASI.

Pada hari pertama hingga ketujuh, produksi ASI mulai menurun. Payudara masih dapat terasa penuh, berat, atau mengalami pembengkakan ringan.

Memasuki minggu kedua hingga keempat, rasa nyeri umumnya berangsur berkurang seiring berhentinya produksi ASI. Kelenjar susu juga mulai mengalami pengecilan.

Selanjutnya, sekitar bulan ketiga hingga keenam, jaringan payudara mulai stabil pada ukuran barunya dan kulit secara bertahap menyesuaikan.

Namun, waktu pemulihan tersebut dapat berbeda pada setiap perempuan. Kondisi tubuh, perubahan berat badan, elastisitas kulit, serta proses kehamilan dapat memengaruhi bentuk payudara setelah menyusui.

Nutrisi dan Olahraga Jadi Pendukung

dr Indra menekankan bahwa perempuan yang ingin menjaga kondisi tubuh setelah masa menyusui perlu memperhatikan pola hidup secara keseluruhan.

Asupan nutrisi yang seimbang dan aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kebugaran serta kesehatan tubuh setelah kehamilan dan menyusui.

Sementara itu, sejumlah bahan alami seperti minyak zaitun, putih telur, lidah buaya, dan madu kerap dipercaya masyarakat dapat membantu menjaga elastisitas kulit jika digunakan sebagai masker atau untuk pijat.

Namun, klaim bahwa bahan-bahan tersebut dapat secara langsung mengencangkan payudara belum dapat dijadikan sebagai metode medis yang terbukti. Perawatan kulit juga perlu dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari iritasi, terutama pada kulit yang sensitif.

Pada akhirnya, perubahan bentuk payudara setelah hamil dan menyusui merupakan hal yang umum terjadi. Yang terpenting, kekhawatiran mengenai perubahan bentuk tubuh tidak seharusnya membuat ibu menghindari pemberian ASI.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
dr indra tarigan payudara bisa berubah payudara menyusui asi menyusui