Benarkah Ubi Rambat dan Gaya Bercinta Bisa Dapat Anak Kembar? Ini Penjelasan dr Indra Tarigan

Agus Pramono • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 18:15 WIB
dr Indra Tarigan beri penjelasan soal dapat bayi kembar.(Facebook)
dr Indra Tarigan beri penjelasan soal dapat bayi kembar.(Facebook)

 

PALANGKA RAYA – Memiliki anak menjadi impian banyak pasangan suami istri. Tidak sedikit pula yang berharap mendapatkan bayi kembar dalam kehamilannya.

Namun, kehamilan kembar tidak dapat dijamin hanya dengan mengonsumsi makanan tertentu atau menerapkan posisi hubungan seksual tertentu.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr Indra Tarigan, menjelaskan peluang kehamilan kembar dapat dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya genetik.

Baca Juga: Gen Z Disebut Makin Takut Melahirkan, dr Indra Tarigan Soroti Pengaruh Media Sosial

Menurutnya, terdapat beberapa kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang perempuan mengalami kehamilan kembar. 

Di antaranya riwayat keluarga tertentu, usia ibu, faktor genetik, hingga penggunaan obat penyubur atau program bayi tabung (IVF) dalam kondisi tertentu dan berdasarkan indikasi medis.

“Peluang bisa dengan genetik. Stimulasi ovarium,” ujar dr Indra dilansir dari Facebook Doa Ibu Persada.

Ia menjelaskan, stimulasi ovarium merupakan salah satu kondisi yang dapat meningkatkan peluang terjadinya kehamilan kembar. 

Namun, penggunaannya harus berada dalam pengawasan dokter dan bukan dilakukan secara sembarangan.

Di masyarakat, beredar berbagai anggapan mengenai cara mendapatkan anak kembar. 

Beberapa di antaranya menyebut konsumsi ubi rambat, hamil pada usia di atas 35 tahun, hamil ketika masih menyusui, hingga posisi hubungan seksual tertentu dapat meningkatkan peluang mendapatkan bayi kembar.

Baca Juga: Operasi Caesar Berarti Gagal Melahirkan? dr Indra Tarigan: Ada Luka Seumur Hidup Bisa Tak Sembuh

Namun, dr Indra mengingatkan agar pasangan tidak mudah mempercayai mitos tersebut.

Hingga saat ini, tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa makanan tertentu maupun posisi hubungan seksual tertentu dapat menjamin atau secara bermakna meningkatkan peluang kehamilan kembar.

Karena itu, pasangan yang sedang mempersiapkan kehamilan disarankan lebih memprioritaskan kondisi kesehatan ibu dan calon bayi.

Kehamilan kembar memang dapat menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pasangan. 
Namun, kehamilan kembar juga membutuhkan pemantauan kehamilan yang lebih cermat karena memiliki risiko tertentu yang perlu diperhatikan secara medis.

“Banyak pasangan yang berharap memiliki bayi kembar. Namun, tidak ada cara alami yang terbukti dapat menjamin kehamilan kembar,” jelasnya.

Menurut dr Indra, baik kehamilan dengan satu bayi maupun bayi kembar sama-sama merupakan anugerah.

Yang terpenting adalah mempersiapkan kehamilan secara sehat dan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila pasangan memiliki rencana atau kondisi khusus dalam program kehamilan.

Dengan demikian, keinginan mendapatkan anak kembar sebaiknya tidak membuat pasangan mencoba berbagai metode yang belum terbukti secara medis. 
Konsultasi dengan dokter menjadi langkah yang lebih tepat untuk mengetahui kondisi kesuburan sekaligus pilihan program kehamilan yang sesuai.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
dr indra tarigan bayi kembar program bayi tabung