KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Vasektomi menjadi salah satu pilihan kontrasepsi bagi pria yang menginginkan metode keluarga berencana (KB) bersifat permanen.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr Indra Tarigan, menjelaskan bahwa vasektomi dilakukan dengan memotong atau menutup saluran sperma atau vas deferens.
Tindakan tersebut membuat sperma tidak dapat masuk ke dalam air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi.
Baca Juga: Operasi Caesar Berarti Gagal Melahirkan? dr Indra Tarigan: Ada Luka Seumur Hidup Bisa Tak Sembuh
Dengan demikian, vasektomi bekerja dengan mencegah sperma mencapai dan membuahi sel telur.
Vasektomi Tidak Menyebabkan Impotensi
Salah satu anggapan yang masih berkembang di masyarakat adalah vasektomi dapat menyebabkan pria menjadi impoten. Anggapan tersebut tidak tepat.
Vasektomi tidak menghilangkan kemampuan pria untuk mengalami ereksi maupun menurunkan gairah seksual.
Setelah menjalani vasektomi, pria tetap dapat mengalami ereksi, gairah seksual, orgasme, dan ejakulasi.
Baca Juga: Benarkah Ubi Rambat dan Gaya Bercinta Bisa Dapat Anak Kembar? Ini Penjelasan dr Indra Tarigan
Perbedaannya, air mani tidak lagi mengandung sperma setelah prosedur tersebut dinyatakan berhasil melalui pemeriksaan sperma.
Hal penting yang perlu diketahui, vasektomi tidak langsung memberikan perlindungan kontrasepsi setelah tindakan dilakukan.
Masih diperlukan waktu hingga sisa sperma yang berada di saluran reproduksi benar-benar tidak ditemukan.
Karena itu, pasangan tetap perlu menggunakan metode kontrasepsi lain setelah vasektomi sampai hasil pemeriksaan sperma memastikan tidak ada sperma yang tersisa.
Pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan vasektomi telah bekerja secara efektif.
Bersifat Permanen, Perlu Dipertimbangkan Matang
Berbeda dengan beberapa metode kontrasepsi sementara, vasektomi pada dasarnya merupakan metode KB permanen.
Baca Juga: Gen Z Disebut Makin Takut Melahirkan, dr Indra Tarigan Soroti Pengaruh Media Sosial
Karena itu, keputusan menjalani vasektomi perlu dipertimbangkan secara matang oleh pria bersama pasangan.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan juga penting untuk mengetahui prosedur, manfaat, risiko, serta hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum dan setelah tindakan.
Vasektomi menunjukkan bahwa program KB bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan.
Pria juga dapat mengambil peran dalam perencanaan keluarga, termasuk dengan mempertimbangkan metode kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi dan rencana pasangan.
Dengan informasi yang tepat, keputusan mengenai kontrasepsi dapat dilakukan bersama-sama berdasarkan pertimbangan kesehatan dan rencana keluarga.(*)
Editor : Ayu Oktaviana