KALTENGPOS.JAWAPOS.COM– Pasangan yang sedang menjalani program hamil (promil) kerap bertanya-tanya, apakah berhubungan seksual setiap hari bisa meningkatkan peluang kehamilan.
Ternyata, frekuensi hubungan seksual bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pembuahan.
Mengetahui masa subur dan waktu terjadinya ovulasi justru menjadi hal penting bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan.
Baca Juga: Pantat Perlu Digganjal Bantal! Sperma Tumpah Apakah Bisa Hamil? Ini Penjelasan dr Indra Tarigan
Bidan Wina Apsari mengatakan pasangan boleh berhubungan seksual pada masa subur, tetapi tidak harus dilakukan setiap hari.
“Boleh-boleh saja sih berhubungan saat masa subur, tapi jangan tiap hari, bisa dua atau tiga hari sekali,” kata Wina dalam unggahan di laman Facebook-nya.
Menurutnya, pasangan perlu mengetahui perkiraan waktu ovulasi sehingga hubungan seksual dapat dilakukan pada periode yang memiliki peluang lebih besar untuk terjadinya pembuahan.
Sebagai contoh, jika perkiraan puncak ovulasi berada di sekitar tanggal 14 atau 15, pasangan dapat mengatur hubungan seksual pada periode tersebut.
Baca Juga: Dokter Indra Tarigan Buktikan Langkah Sederhana Ini Bisa Wujudkan Pasangan Punya Momongan
Apakah Berhubungan Setiap Hari Mengurangi Peluang Hamil?
Frekuensi hubungan seksual setiap hari tidak secara otomatis membuat pasangan sulit mendapatkan kehamilan.
Baca Juga: Gen Z Disebut Makin Takut Melahirkan, dr Indra Tarigan Soroti Pengaruh Media Sosial
Namun, bagi sebagian pria, ejakulasi yang sangat sering dapat membuat jumlah sperma dalam satu kali ejakulasi menjadi lebih rendah untuk sementara.
Karena itu, berhubungan setiap satu hingga dua hari selama masa subur sering kali menjadi pilihan yang praktis bagi pasangan yang sedang promil.
Yang tidak kalah penting adalah menentukan masa subur dengan tepat, karena sel telur hanya dapat dibuahi dalam waktu terbatas setelah ovulasi, sedangkan sperma dapat bertahan beberapa hari di saluran reproduksi perempuan.
Tidak Perlu Takut Berhubungan Setelah Pembuahan
Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah hubungan seksual setelah pembuahan akan membuat hasil pembuahan yang sudah menempel di rahim “gugur” akibat guncangan.
Pada kehamilan yang normal dan tidak memiliki komplikasi tertentu, hubungan seksual umumnya tidak menyebabkan keguguran. Embrio yang berkembang di dalam rahim terlindungi oleh struktur dan jaringan tubuh ibu.
Keguguran juga umumnya bukan disebabkan oleh aktivitas seksual biasa, melainkan dapat berkaitan dengan berbagai faktor medis lainnya.
Meski demikian, pasangan yang telah dinyatakan hamil dan mengalami perdarahan, nyeri hebat, atau memiliki kondisi kehamilan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau bidan sebelum melakukan hubungan seksual.
Bagi pasangan yang sedang menjalani promil, fokus utama bukan sekadar seberapa sering berhubungan, tetapi memanfaatkan masa subur, menjaga kesehatan reproduksi kedua pasangan, dan melakukan pemeriksaan bila kehamilan belum kunjung terjadi.(*)
Editor : Ayu Oktaviana