SAMPIT-Keanekaragaman satwa endemik masih dapat dijumpai di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, meski keberadaannya terus berkurang. Beberapa jenis masih bertahan, namun sebagian lain semakin sulit ditemukan di alam liar.
Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan perlindungan terhadap satwa liar, terutama yang dilindungi undang-undang, masih menjadi perhatian serius pihaknya.
“Untuk satwa liar endemik, ada beberapa yang masih bisa kita temukan. Namun, ada juga yang populasinya semakin jarang terlihat. Bahkan beberapa di antaranya sudah sangat sulit ditemui,” ujarnya, Selasa (16/9/2025).
Menurutnya, dari sepuluh jenis satwa endemik Kalimantan yang dilindungi, sebagian besar masih dapat dijumpai di wilayah Kalteng. Di antaranya orangutan Kalimantan, bekantan, kancil Kalimantan, beruang madu, owa Kalimantan, serta lutung merah.
“Poin satu sampai lima, ditambah lutung merah, masih ada di wilayah kita. Populasinya memang menurun, tetapi keberadaannya masih bisa dijumpai,” terangnya.
Namun, sejumlah satwa lain terancam makin langka. Muriansyah mencontohkan rangkong gading, kucing merah Kalimantan, hingga tarsius yang kini sudah jarang terlihat.
“Rangkong gading dan kucing merah Kalimantan sudah sangat sulit ditemui. Terutama kucing merah, keberadaannya benar-benar langka,” kata Muriansyah.
Ancaman terhadap kelestarian satwa endemik ini datang dari banyak faktor, seperti perburuan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan. Kawasan konservasi seperti Taman Nasional Tanjung Puting kini menjadi habitat penting bagi orangutan dan satwa lainnya.
“Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Tugas kita bersama menjaga satwa endemik ini agar tetap ada untuk generasi mendatang,” pungkasnya. (mif)
Editor : Ayu Oktaviana