SAMPIT-Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (18/9) malam, tidak hanya menjadi ajang mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga momentum untuk mempertebal cinta kepada beliau.
Hal itu disampaikan Ustaz Hilman Fauzi dalam ceramahnya di hadapan ribuan jamaah di Masjid Wahyu Al Hadi, Islamic Center Sampit.
Hilman menekankan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban menumbuhkan kecintaan kepada nabi.
Ia menyebut ada tiga alasan utama yang mendasarinya.
Pertama, karena mencintai Rasulullah merupakan syarat mutlak jika ingin mendapatkan cinta Allah SWT.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah pada surat Ali Imran ayat 31. “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
“Mencintai Nabi adalah syarat jika ingin dicintai Allah. Dalilnya Q.S. Ali Imran: 31,” ujarnya.
Alasan kedua, lanjut Hilman, adalah kebutuhan manusia akan syafaat Nabi di hari akhir.
Ia menyampaikan secara jujur bahwa amal ibadah manusia sering kali jauh dari sempurna.
Shalat masih sering tidak khusyuk, bacaan Alquran banyak yang belum fasih, sedekah pun sering dihitung-hitung.
Untuk itu, menurutnya, manusia tidak bisa hanya mengandalkan amal untuk meraih surga.
“Kita semua butuh syafaat. Masuk surga karena shalat, saya tidak yakin, karena shalatnya banyak tidak khusyuk. Masuk surga karena membaca Alquran, saya tidak yakin, karena bacaannya masih banyak salah. Masuk surga mengandalkan sedekah, saya tidak yakin, karena sedekah masih hitung-hitungan. Jadi masuk surga melalui hati yang mencintai Nabi Muhammad dan mendapat syafaat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kecintaan kepada Nabi akan membuka pintu bagi seorang hamba untuk memperoleh syafaat.
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW: “Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut, kata Hilman, memberi harapan besar bahwa orang yang benar-benar mencintai Nabi Muhammad akan digolongkan bersama beliau di akhirat kelak.
Alasan ketiga adalah karena Nabi Muhammad SAW merupakan suri teladan terbaik sepanjang masa. Dalam Alquran surat Al-Ahzab ayat 21 disebutkan:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”
“Karena Nabi adalah suri teladan yang baik,” pungkas Ustaz Hilman.
Ia menekankan, keteladanan Rasul bukan hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari memperlakukan keluarga, bersosialisasi dengan masyarakat, hingga kerendahan hati beliau sebagai pemimpin umat.
Semua itu, katanya, adalah cermin akhlak mulia yang wajib diteladani.
Ceramah itu ditutup dengan doa agar umat Islam semakin teguh meneladani akhlak Rasulullah, memperkuat kecintaan kepadanya, dan kelak dikumpulkan bersama beliau di akhirat.
Jamaah pun tampak larut, terutama ketika Hilman menyinggung keterbatasan amal manusia dan kebutuhan akan syafaat Nabi. (mif)
Editor : Ayu Oktaviana