SAMPIT – Suasana di lorong RSUD dr Murjani Sampit kini terasa lebih lengang dari biasanya. Ruang tunggu yang dulu dipenuhi antrean pasien tampak lebih sepi.
Di balik perubahan ini, rumah sakit kebanggaan warga Kotawaringin Timur itu sedang menghadapi tantangan besar, kekurangan dokter spesialis.
RSUD dr Murjani Sampit mencatat adanya penurunan jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap sepanjang tahun 2025.
Kondisi tersebut tidak lepas dari sejumlah kendala baik di sisi internal rumah sakit maupun faktor eksternal yang memengaruhi pelayanan.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr Murjani, dr Yulia Nofiany, mengatakan bahwa salah satu faktor dominan adalah berkurangnya jumlah dokter spesialis yang aktif selama tahun berjalan.
“Di tahun ini ada lima dokter kami yang off. Yang pertama, ada dokter yang meninggal dunia. Kemudian dokter spesialis jiwa mutasi, dokter onkologi juga mutasi. Dua lainnya, spesialis saraf dan jantung, sedang menjalani fellowship intervensi untuk memenuhi persyaratan layanan cath lab,” ujarnya, Sabtu (25/10/2025).
Ia menuturkan, kondisi tersebut otomatis berdampak pada jumlah pasien yang datang ke rumah sakit. Beberapa layanan yang tidak aktif membuat pasien memilih menunggu atau berobat ke rumah sakit lain yang menyediakan poli serupa.
“Kalau polinya off, otomatis jumlah kunjungan menurun. Dan ketika kunjungan menurun, pendapatan pun berkurang,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa selain faktor internal, penurunan jumlah pasien juga dipengaruhi beberapa hal eksternal yang justru menunjukkan perbaikan sistem kesehatan daerah. Salah satunya adalah program rujuk balik yang kini berjalan dengan baik di tingkat puskesmas.
“Program rujuk balik mungkin sudah berjalan optimal. Selain itu, screening di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) juga sudah bagus di 144 layanan, sehingga pasien yang datang ke rumah sakit benar-benar kasus spesialistik,” jelasnya.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas pelayanan di puskesmas dan penerapan triase yang lebih ketat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) juga membuat jumlah pasien yang masuk lebih terarah. Menurutnya, kini IGD RSUD dr Murjani memang difokuskan hanya untuk pasien dalam kondisi darurat.
“IGD sekarang khusus untuk pasien emergensi, sedangkan kasus ringan sudah tertangani di puskesmas. Artinya sistem rujukan berjalan dengan baik,” katanya.
Yulia juga mengungkapkan bahwa poli mata mengalami penurunan. Hal itu terjadi karena dokter spesialis mata sempat menjalani pendidikan prajabatan CPNS Sehingga pelayanan sempat berhenti sementara.
“Poli mata sempat tutup karena dokter kami prajab. Sedangkan mata itu termasuk dalam lima besar layanan dengan jumlah pasien terbanyak. Sekarang sudah kembali beroperasi,” ujarnya.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, ia optimistis kondisi tersebut akan membaik pada tahun 2026. Ia mengatakan, dua dokter spesialis yang sedang fellowship akan segera kembali dengan kompetensi tambahan yang akan memperkuat layanan rumah sakit, terutama untuk pengoperasian cath lab.
“Tahun depan kami optimis, karena dua dokter yang fellowship akan kembali dan membawa tambahan kompetensi. Targetnya, layanan cath lab bisa kami operasikan di semester dua tahun 2026,” terangnya.
Lebih lanjut, RSUD dr Murjani juga telah menjalin kerja sama dengan Universitas Airlangga (Unair) untuk penempatan residen mata di Sampit. Program ini diharapkan mampu memperluas kapasitas pelayanan poli mata yang sempat menurun.
“Sudah dikontak oleh Unair agar mereka bisa menempatkan residen-residen mata di RSUD dr Murjani. Dengan begitu, kapasitas pelayanan mata kami bisa meningkat,” katanya.
Meski mengalami penurunan kunjungan, dr Yulia menegaskan bahwa capaian rumah sakit masih berada di jalur positif. Hingga September, realisasi pendapatan mencapai 74 persen dan diperkirakan bisa mencapai target di akhir tahun.
"Per September, realisasi kami sudah 74 persen. Masih ada tiga bulan tersisa, dan insyaallah bisa tercapai. Kami tetap optimis karena trennya mulai membaik,” pungkasnya.(mif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana