Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kecamatan Tualan Hulu Dilanda Banjir, Tiga Desa Terdampak

Agus Pramono • Jumat, 5 Desember 2025 | 12:45 WIB
BPBD Kotim menuju lokasi banjir.
BPBD Kotim menuju lokasi banjir.

SAMPIT — Banjir kembali melanda beberapa desa di Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sejak beberapa bari belakangan, menyusul curah hujan lebat yang terjadi sejak awal pekan. Laporan insidentil yang dirilis Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kotim pada Kamis (4/12/2025) pukul 18.50 WIB menyebutkan, tiga desa mengalami kenaikan muka air dengan kondisi yang berbeda-beda.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Tengah memprediksi sebagian besar wilayah provinsi akan mengalami curah hujan kategori menengah sepanjang Desember 2025. Namun, beberapa wilayah termasuk sebagian Kotim bagian selatan diperkirakan menerima hujan kategori tinggi pada Dasarian I, rentang 1 hingga 10 Desember.

Kondisi itu sejalan dengan peningkatan tinggi muka air sungai yang terpantau oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II. Pada 3 Desember pukul 18.00 WIB, Pos Duga Air (PDA) Samuda mencatat tinggi muka air 7,27 meter dengan status Siaga 1. Data Pos Curah Hujan juga menunjukkan intensitas hujan lebat di bagian hulu, yakni di Tumbang Sangai, Tumbang Mangkup dan Pantap.

“Curah hujan yang terjadi di wilayah utara sungai cukup signifikan dan langsung berdampak pada kenaikan permukaan air di beberapa titik,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Jumat (5/12/2025).

Desa Tumbang Mujam menjadi salah satu lokasi yang mengalami kenaikan air paling cepat. Kamis (4/12/2025) pagi, ketinggian air tercatat 49 sentimeter, lalu meningkat menjadi 60 sentimeter saat siang. Satu rumah dengan empat jiwa serta satu kantor pelayanan publik turut terdampak.

Sementara itu, Desa Merah menghadapi banjir dengan ketinggian 60 hingga 100 sentimeter. Jalan penghubung utama sepanjang 400 hingga 500 meter tidak dapat dilintasi kendaraan, sehingga akses menuju puskesmas kecamatan terhambat.

Sebanyak 12 rumah milik 13 kepala keluarga atau sekitar 40 warga terdampak, meski tidak ada pengungsi.

“Untuk Desa Merah dan Luwuk Sampun, yang paling mengganggu adalah akses. Jalan tidak bisa dilalui kendaraan sehingga aktivitas masyarakat ikut terhambat,” kata Multazam.

Desa Luwuk Sampun juga dilaporkan mengalami kondisi serupa, dengan ketinggian air 60 hingga 100 sentimeter. Jalan sepanjang hampir 700 meter terendam dan tidak dapat dilintasi. Meski begitu tidak ada warga yang harus mengungsi.

BPBD Kotim telah melakukan sejumlah langkah penanganan, mulai dari berkoordinasi dengan PLN Ranting Sampit terkait potensi terendamnya satu unit trafo di Tumbang Mujam, berkoordinasi dengan pemerintahan desa, hingga berkomunikasi dengan BWS Kalimantan II di Palangka Raya. Penggunaan moda transportasi sungai juga disiapkan untuk memastikan pelayanan dasar tetap berjalan.

“Kami sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi. TRC juga akan turun langsung ke lokasi pada 5 Desember untuk memastikan kebutuhan warga dapat dipenuhi,” tegas Multazam.

BPBD mengimbau masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai agar tetap waspada terhadap potensi peningkatan air, terutama jika hujan di wilayah hulu kembali meningkat. (mif)

Editor : Ayu Oktaviana
#curah hujan #pelayanan publik #banjir #palangka raya #Kotawaringin Timur (Kotim) #bantaran sungai #intensitas hujan #trafo #Balai Wilayah Sungai #bpbd kotim