SAMPIT-Polemik terkait penyelenggaraan Gubernur Motoprix Road Race di kawasan Taman Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akhirnya menemukan titik temu usai mediasi pada Selasa (9/10/2025) sore.
Road race akan tetap dilaksanakan di Taman Kota Sampit dengan berbagai catatan untuk mobilitas klinik Terapung dan Jemaat Gereja Santos Yohanes Joan Bosco.
Namun, pihak Gereja Santos Yohanes Don Bosco meminta agar event tahun ini menjadi yang terakhir digelar di lokasi tersebut.
Permintaan gereja
Permintaan itu disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Paroki San Yohanes Don Bosco Sampit, Adrianus Salampak, dalam proses mediasi bersama panitia dan pemerintah daerah.
“Kami minta ini event yang terakhir untuk motoprix atau road race,” katanya.
Adrianus menegaskan bahwa pihak gereja pada prinsipnya mendukung kegiatan olahraga yang memajukan prestasi daerah, namun pelaksanaannya harus tetap mematuhi aturan dan tidak mengganggu pelayanan publik, terutama rumah ibadah dan fasilitas kesehatan yang berada di sekitar area balap.
“Yang pertama itu sebetulnya kita menghormati bahwa ini ajang untuk prestasi Kotim. Asal kita tidak melanggar rambu-rambu apa yang dikeluarkan surat bupati itu,” ujarnya.
Salah satu poin penting yang ditegaskan gereja adalah permintaan agar area depan poliklinik dan gereja benar-benar steril dari penonton dan kendaraan pengunjung. Menurut Adrianus, akses inilah yang selama ini paling menghambat aktivitas jemaat dan pasien.
“Akses tadi, ya dari trotoar itu, 2 meter setengah lah, untuk bisa masuk ke poliklinik atau ke pastoran ini. Kemudian di Jalan S Parman juga diberi akses untuk ke gereja, jangan sampai nanti tertutup oleh penonton atau parkir-parkir penonton,” bebernya.
Dari pengalaman terdahulu, para jemaat gereja harus berjalan cukup jauh ke gereja. “Biasa penuh. Akhirnya kami jalan kaki dari RA Kartini, hanya untuk ke gereja karena parkirnya jauh sekali,” katanya.
Selain akses, gereja juga meminta agar titik start dipindahkan dari lokasi yang selama ini berada tepat di depan fasilitas pelayanan publik. Perubahan itu dianggap krusial untuk mengurangi kebisingan dan kerumunan di titik yang paling sensitif.
“Kami minta startnya pindah ke sana. Karena kalau di sini, semua start dan lain sebagainya, akhirnya ribut di sini. Poliklinik ini kan banyak pasien, ada yang rawat inap, itu tidak bisa tidur dan lain sebagainya,” jelasnya.
Adrianus juga menegaskan bahwa kawasan sekitar poliklinik dan gereja harus steril dari penonton, mengingat potensi keramaian yang mengganggu kegiatan ibadah dan pelayanan kesehatan.
“Ya, tempat ini dari akses penonton steril sebetulnya,” ucapnya.
Terkait upaya komunikasi sebelumnya, Adrianus menyebut bahwa persoalan keberatan masyarakat sekitar bukanlah hal baru. Keluhan telah disampaikan jauh sebelum 2025, namun tidak mendapat perhatian memadai.
“Sebetulnya kami dulu sudah membuat surat itu, beberapa kali, tapi tidak diladenin oleh bupati. Kemudian kami membuat surat dengan tembusan sampai Gubernur, baru diperhatikannya. Sehingga keluar surat bupati yang tidak boleh itu di sini,” jelasnya.
Ketua IMI Kotim buka suara
Sementara itu, Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kotim, Angga Aditya Nugraha mengatakan adanya pembahasan bahwa ini akan menjadi event terakhir yang digelar di kawasan Taman Kota Sampit, pihak IMI, menghormati kebijakan tersebut yang menilai taman kota lebih tepat difungsikan sebagai ruang publik murni.
“Betul, ini adalah event terakhir di taman. Taman kota adalah ruang publik. Karena kita mengingat dekat sama Porprov, kita juga melakukan persiapan juga untuk atlet-atlet kita dan ini merupakan salah satu instrumen yang baik untuk menunjang atlet-atlet kita untuk persiapan.” Imbuhnya. (mif)
Editor : Agus Pramono