SAMPIT – Penyelenggaraan Motoprix Kotim Open Race 2025 telah berakhir pada Minggu (14/12/2025) kemarin sore.
Event tersebut disebut menjadi momentum terakhir balap motor di Taman Kota Sampit usai dilaksanakan selama lebih dari tiga dekade. Pembangunan sirkuit permanenpun diharapkan bisa terwujud.
Ketua Cipta Mentaya Production selaku panitia pelaksana, Muhammad Hasbi, menilai keberadaan sirkuit permanen sangat krusial bagi pembinaan atlet balap motor daerah.
Tanpa event yang rutin digelar, menurutnya, sulit berharap lahirnya pembalap andal dari Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Harapan kami pemerintah daerah bisa menghidupkan sirkuit permanen. Tanpa event, tidak akan ada atlet. Kalau event rutin digelar, pasti akan muncul pembalap Kotim yang handal,” katanya usai acara.
Ia menegaskan, pihaknya telah berkomitmen bahwa Motoprix Kotim Open Race 2025 menjadi event terakhir yang digelar di lintasan nonpermanen.
Ke depan, balap motor hanya memungkinkan digelar jika sirkuit permanen benar-benar tersedia.
“Kami sudah komitmen, ini event terakhir. Apapun kondisinya, kami masih menunggu. Kalau ada sirkuit permanen, event balap motor pasti bisa digelar lagi di Sampit,” ujarnya.
Hasbi juga menjelaskan lokasi alternatif di dalam kota tak memungkinkan apabila balap motor tetap dipaksakan digelar tanpa sirkuit permanen. Menurutnya, hampir tidak ada lokasi yang memenuhi standar keselamatan dan kelayakan lomba.
“Kalau dipaksa, sepertinya tidak ada yang memenuhi standar. Di bundaran, aspalnya bergelombang. Dan kawasan perkantoran, kami khawatir mengganggu aktivitas,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, opsi pemindahan lintasan ke sejumlah ruas jalan sempat dibahas, termasuk kawasan Jalan Ahmad Yani hingga arah Gedung Olahraga (GOR) Habaring Hurung. Namun setelah melalui banyak pertemuan dan pertimbangan, rencana tersebut dinilai tidak memungkinkan.
“Banyak pertimbangan. Pedagang di sana cukup banyak, ruang penonton tidak ada, dan komunikasi dengan racing committee juga sulit. Kalau dipaksakan, pasti banyak komplain dari pertokoan,” katanya.
Terkait rencana sirkuit di Kilometer 6, Hasbi menyebut lokasi tersebut belum memenuhi standar teknis balap motor. Dari sisi panjang dan lebar lintasan, desain yang ada masih berada di bawah ketentuan minimal.
“Rencananya panjang track sekitar 1,2 kilometer, sedangkan standar minimal itu 1,5 kilometer. Kalau tetap dilanjutkan dengan ukuran itu, layout harus diubah,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila sirkuit tidak memenuhi standar dan tetap digunakan, risiko sanksi akan ditanggung oleh penyelenggara.
“Kalau belum standar tapi tetap dilaksanakan, kami yang kena sanksi. Itu yang kami hindari,” bebernya. (mif)