Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Menyongsong Tahun Baru 2026, Petani Jagung di Sampit Raup Omzet Belasan Juta Rupiah

Agus Pramono • Senin, 29 Desember 2025 | 15:50 WIB
Petani jagung bersiap memanen.MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Petani jagung bersiap memanen.MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 

SAMPIT – Jagung menjadi salah satu komoditas yang paling banyak diburu masyarakat menjelang malam pergantian tahun. Momentum ini dimanfaatkan para petani jagung di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), untuk meningkatkan pendapatan dari hasil panen mereka.

Salah satunya adalah Sumardianto, petani jagung di Jalan Teratai V, Kota Sampit. Ia mengaku sengaja menanam jagung sejak pertengahan November lalu agar dapat dipanen tepat menjelang perayaan tahun baru. Dari panen tersebut, ia mampu meraup omzet hingga belasan juta rupiah.

 Baca Juga: Jelang Tahun Baru 2026, Petani Jagung di Sampit Pasarkan Via Facebook, Kebanjiran Pesanan

“Menanamnya memang dari pertengahan November untuk kebutuhan tahun baru. Keuntungan bersihnya bisa mencapai Rp15 juta,” ujarnya, Senin (29/12/2025).

Dari lahan seluas sekitar 50 x 100 meter persegi, Sumardianto menghasilkan sekitar delapan ribu biji jagung jenis Harmonis kotor. Jagung hasil panen tersebut kemudian dipilah berdasarkan bentuk dan kualitas untuk menentukan harga jual.

Untuk jagung kualitas A, yang memiliki ukuran besar dengan biji rapat, ia mematok harga Rp3.500 per buah. Sementara jagung kualitas B, dengan ukuran sedang, dijual seharga Rp3.000 per buah.

Adapun jagung kualitas C, yang berukuran paling kecil, dijual dengan harga Rp2.500 per buah. Jagung-jagung tersebut diikat sesuai kualitasnya, dengan satu ikat berisi 10 buah.

“Satu ikat isinya 10 biji. Jadi ada yang harganya Rp35 ribu, Rp30 ribu, dan Rp25 ribu,” ucap pria yang telah menekuni usaha budidaya jagung selama 25 tahun itu.

Ia menambahkan, jagung hasil panennya biasanya ludes terjual sehari sebelum pergantian tahun. Untuk menjaga kualitas, ia memilih memetik jagung sesuai pesanan agar tetap segar saat sampai ke tangan pembeli.

“Biasanya tanggal 31 Desember sudah habis. Sengaja dipetik sesuai pesanan. Maksimal tiga hari setelah dipetik masih segar, itu pun biasanya untuk wilayah yang jauh seperti Parenggean,” jelasnya. (mif)

Editor : Ayu Oktaviana
#BUDIDAYA JAGUNG #pergantian tahun #perayaan tahun baru #Kota sampit #Kotawaringin Timur (Kotim) #parenggean #Biji Jagung #jagung #hasil panen