SAMPIT – Penyakit HIV/AIDS masih ditemukan pada warga Kotawaringin Timur (Kotim). Mayoritas penderitanya berasal dari kelompok usia produktif yang seharusnya berada di fase paling aktif dalam kehidupan.
Data RSUD dr Murjani mencatat, hingga saat ini terdapat 148 pasien HIV/AIDS yang terdata menjalani penanganan. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 orang tercatat rutin menjalani pengobatan, sementara lainnya memilih melanjutkan terapi di fasilitas kesehatan yang lebih dekat dengan domisili mereka.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr Anggun Iman Hernawan, mengatakan layanan penanganan HIV/AIDS dibuka setiap hari dan mencakup pelayanan rawat jalan hingga rawat inap sesuai kebutuhan medis pasien.
“Jumlah pasien yang terdata ada 148 orang. Sekitar 80 pasien di antaranya rutin berobat di sini,” ujarnya Rabu (28/1/2026).
Menurut dr Iman, berkurangnya jumlah pasien aktif di RSUD Murjani bukan berarti kasus HIV/AIDS menurun. Justru, hal itu menunjukkan bahwa layanan pengobatan kini semakin tersebar di berbagai fasilitas kesehatan di Kotim.
“Sekarang pengobatan HIV/AIDS tidak lagi terpusat. Sudah tersedia di RS Pratama Parenggean, Puskesmas Ketapang I, dan Puskesmas Baamang II. Pasien kami arahkan ke faskes terdekat agar lebih mudah kontrol,” jelasnya.
Ia menambahkan, pasien asal luar daerah seperti Kabupaten Seruyan juga telah diarahkan untuk melanjutkan pengobatan di wilayah masing-masing, sehingga kesinambungan terapi tetap terjaga tanpa harus menempuh jarak jauh.
Dari sisi demografi, dr Iman mengungkapkan bahwa rentang usia 25 hingga 49 tahun mendominasi kasus HIV/AIDS di Kotim. Sementara itu, kasus pada anak-anak dan lansia relatif jarang ditemukan.
“Sebagian besar pasien berada di usia produktif. Pola penularan yang paling sering kami temukan adalah melalui hubungan seksual,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, banyak penderita baru mengetahui status HIV/AIDS ketika datang berobat dengan keluhan tertentu. Padahal secara medis, virus HIV sudah bisa terdeteksi sekitar tiga bulan setelah paparan, meski gejala klinis baru muncul bertahun-tahun kemudian.
“Tidak sedikit pasien yang merasa sehat selama bertahun-tahun. Bahkan ada kasus, pasangannya lebih dulu sakit dan meninggal, baru kemudian diketahui bahwa yang bersangkutan juga terinfeksi,” katanya.
Terkait pengobatan, dr Iman menegaskan HIV/AIDS memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, dengan konsumsi obat secara rutin dan disiplin, kualitas hidup pasien tetap bisa terjaga.
“Kalau viral load sudah di bawah 5.000 kopi, itu sudah terkendali. Pasien bisa hidup normal, tetapi obat harus diminum seumur hidup. Jika berhenti, virus bisa kembali aktif,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perbedaan pola penularan HIV/AIDS di Kotim dibandingkan daerah lain. Jika di sejumlah wilayah di Pulau Jawa penularan banyak terjadi akibat penggunaan jarum suntik narkoba, di Kotim kasus lebih dominan disebabkan perilaku seksual berisiko.
“Edukasi dan pencegahan sangat penting. Kesadaran menjaga perilaku hidup sehat menjadi kunci untuk menekan penularan HIV/AIDS,” pungkasnya. (mif/ram)
Editor : Agus Pramono