SAMPIT- Suasana menjelang perayaan Imlek 2577 Kongzili kian terasa di Kota Sampit. Ornamen merah mulai menghiasi sudut-sudut kota.
Umat Konghucu pun mulai menjalani rangkaian ritual sakral menyambut Tahun Baru Imlek. Salah satunya terlihat di Klenteng Harmoni Kehidupan, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Saat ini, klenteng itu menjadi klenteng satu-satunya di Kalteng.
Aroma dupa yang semerbak menyambut langkah para umat Konghucu di Litang Harmoni Kehidupan, Jalan MT Haryono, Rabu (11/2/2026) malam.
Mereka duduk berjejer rapi, dalam suasana hening dan khidmat, mengikuti ibadah Er Shi Sheng An atau Ji Shi Sian Ang.
Sebuah ritual yang dilaksanakan setiap tanggal 24 bulan ke-12 dalam kalender Tiongkok, sebagai bagian dari rangkaian penyambutan Tahun Baru Imlek.
Tiga dentang lonceng yang dipukul seorang pria paruh baya,menjadi tanda dimulainya ibadah. Kidung-kidung pujian pun mengalun lembut, mengisi ruang Litang. Tak lama kemudian, Wenshi Suhardi, Pemuka Agama Konghucu di Kotim, melangkah masuk dan memimpin jalannya prosesi.
Doa-doa dipanjatkan di hadapan rumpang Nabi Kongzi, diiringi kepulan asap dupa yang dibakar oleh para umat dengan bau yang khas. Suasana semakin sakral ketika rangkaian ibadah dilanjutkan dengan siraman rohani dari Wenshi Suhardi kepada puluhan jemaat yang hadir.
Dengan diapit dua pemuda, Wenshi Suhardi berjalan perlahan menuju depan Litang. Ia memanjatkan doa-doa dalam bahasa Tionghoa, sementara kalimat Sancai, Sancai berulang kali dilafalkan oleh umat Konghucu. Membawa harapan dan menciptakan suasana khidmat.
Pada satu bagian prosesi, sebuah gulungan kertas doa dibakar, lalu diangkat dalam posisi berlutut oleh Wenshi Suhardi sembari kembali memanjatkan doa. Ritual itu menjadi simbol pengharapan, ketulusan, dan penyerahan diri kepada Tian (Tuhan, red).
Rangkaian ibadah kemudian ditutup dengan kegiatan sosial. Yaitu pembagian sembako dan angpao kepada umat yang hadir.
Wenshi Suhardi mengatakan ibadah Er Shi Sheng An merupakan ibadah dalam rangka memperingati hari persaudaraan. Tak heran, ibadah itu dirangkai dengan acara berbagi kepada sesama.
Tradisi tersebut memang sudah berjalan dari ribuan tahun yang lalu. Dengan harapan umat Konghucu yang kurang mampu dapat merayakan Imlek dengan hati gembira.
“Tidak semua umat Konghucu secara ekonomi mampu. Maka momentum ini digunakan untuk saling berbagi, agar semua bisa menyambut Imlek dengan hati yang gembira,” ujarnya, usai melaksanakan ibadah.
Sebanyak 50 umat Konghucu yang dinilai kurang mampu menerima bantuan sembako dan angpao. Bagi mereka, ibadah ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga ruang untuk merasakan perhatian, kepedulian, dan kebersamaan.
Tahun Baru Imlek tahun ini memasuki Shio Kuda Api. Secara filosofi, kuda melambangkan kecepatan, energi, dan kekuatan, sementara api melambangkan perubahan dan transformasi.
“Filosofinya, siapa yang bisa beradaptasi dengan perubahan dan kecepatan zaman, dia yang akan maju. Yang tidak mampu beradaptasi, akan tertinggal. Seperti kuda yang selalu bergerak dinamis, dan api yang melambangkan transformasi,” bebernya.
Di tahun baru ini, ia berharap kondisi bangsa Indonesia semakin membaik, dengan kehidupan sosial yang semakin harmonis dan toleransi antarumat beragama yang terus terjaga.
Perayaan Er Shi Sheng An bukan hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga cermin nilai persaudaraan, kasih sayang, dan kebersamaan.
“Siapa pun yang bisa beradaptasi dengan perubahan zaman, dialah yang akan melangkah lebih maju,” pungkasnya. (mif)
Editor : Ayu Oktaviana