SAMPIT – Perayaan Imlek selalu identik dengan warna merah, lampion yang bergantung, serta harum dupa di sudut klenteng dan vihara.
Di antara berbagai tradisi yang mengiringinya, atraksi barongsai menjadi pertunjukan yang paling dinanti masyarakat.
Dentuman drum, simbal, dan gong menggema di halaman Vihara Avalokitesvara, Jalan Kopi, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Sejumlah pemuda tampak berlatih menggerakkan kepala singa berwarna cerah dengan kompak dan penuh energi.
Mereka tergabung dalam perkumpulan barongsai Kwan In Thang. Menjelang Imlek 2026, jadwal latihan mereka meningkat seiring banyaknya undangan tampil.
Ketua perkumpulan, M Tegar Rifai, mengatakan barongsai kerap dipanggil untuk memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek.
“Biasanya orang-orang memanggil barongsai untuk mengusir roh-roh jahat. Karena filosofinya, mereka takut dengan barongsai,” ujarnya Senin (17/2/2026).
Di Indonesia pertunjukan ini dikenal sebagai barongsai, sementara di negara asalnya, Tiongkok, lebih populer dengan sebutan lion dance. Selain menjadi hiburan, barongsai dipercaya membawa keberuntungan dan menolak energi negatif.
Dalam satu kostum barongsai dimainkan dua orang. Satu mengendalikan bagian kepala, sementara lainnya memainkan bagian ekor. Kekompakan menjadi kunci agar gerakan selaras dengan irama musik pengiring.
Perkumpulan yang berdiri sejak 2010 itu kini memiliki sekitar 25 anggota dari berbagai latar belakang usia. Menjelang Imlek, mereka sudah bersiap tampil di rumah-rumah umat, pusat perbelanjaan hingga kafe.
“Untuk malam Imlek saja kita bisa tampil tiga kali. Besoknya lanjut lagi sampai Cap Go Meh. Jadi memang perlu stamina yang kuat,” kata Tegar.
Di balik gerakan lincah barongsai yang memukau penonton, tersimpan latihan panjang dan disiplin tinggi para pemainnya. Anggota perkumpulan barongsai Kwan In Thang di Vihara Avalokitesvara rutin mengasah kemampuan, terutama menjelang Imlek.
Salah satu anggota, Marcel Putra Rangkap, mengungkapkan bahwa menjelang perayaan mereka berlatih intens selama sepekan penuh.
“Kalau untuk Imlek ini latihannya satu minggu full. Satu kali latihan bisa dua sampai tiga jam,” ujarnya.
Menurutnya, memainkan barongsai bukan perkara mudah. Selain membutuhkan tenaga untuk mengangkat kepala barongsai seberat sekitar satu kilogram, pemain juga harus mampu mengatur gestur kepala, mulut, hingga kedipan mata agar tampak hidup
Kekompakan antar pemain menjadi faktor penting. Sebelum tampil, mereka menyepakati pola gerakan yang akan dimainkan menyesuaikan tempo musik.
“Dari awal dikasih tahu maunya gimana. Di dalam bisa komunikasi juga. Kalau musik ada yang slow dan cepat. Gerakan dasarnya ada kuda-kuda, gerakan kepala, sampai lompatan naik ke atas kepala teman,” jelasnya.
Untuk menghindari cedera, para anggota rutin melakukan pemanasan sebelum latihan. Bahkan mereka biasa berlari mengelilingi vihara hingga lima putaran demi menjaga stamina.
Menariknya, regenerasi pemain barongsai di Sampit terbilang baik. Anggota mereka kini berjumlah sekitar 25 orang, dengan usia termuda 12 tahun. Tak hanya dari kalangan Tionghoa, berbagai suku dan agama turut bergabung.
“Mereka dulu suka ngejar-ngejar barongsai, akhirnya tertarik ikut. Kita di sini umum saja, tidak membedakan ras, suku, atau agama,” kata Marcel.
Ia berharap minat generasi muda terhadap barongsai terus tumbuh agar tradisi ini tetap lestari dan dapat dinikmati hingga masa mendatang.(mif/ram)
Editor : Agus Pramono