Di Vihara Avalokitesvara Sampit, para pemain tampak berlatih serius demi menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili atau tahun 2026 M.
Ketua perkumpulan barongsai Kwan In Thang, M Tegar Rifai, mengatakan barongsai bukan sekadar hiburan, tetapi sarat makna simbolis.
“Biasanya orang-orang memanggil barongsai untuk mengusir roh-roh jahat. Karena filosofinya, mereka takut dengan barongsai,” ujarnya Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan, dalam tradisi Tionghoa, barongsai dipercaya membawa keberuntungan dan energi positif bagi pemilik rumah atau tempat usaha yang didatangi.
Karena itu, tak sedikit warga yang mengundang barongsai tampil mulai malam Imlek hingga perayaan Cap Go Meh.
Gerakan barongsai yang lincah pun memiliki filosofi tersendiri. Dua orang berada di balik satu kostum, satu memainkan kepala lengkap dengan gerakan mata dan mulut, sementara satu lagi menggerakkan bagian tubuh dan ekor.
Kekompakan keduanya menjadi kunci agar singa tampak hidup dan penuh semangat.
Salah satu anggota, Marcel Putra Rangkap, mengungkapkan bahwa latihan intens dilakukan menjelang Imlek. “Kalau untuk Imlek ini latihannya satu minggu full. Satu kali latihan bisa dua sampai tiga jam,” katanya.
Ia menambahkan, memainkan barongsai tidak semudah yang terlihat. Selain memerlukan tenaga untuk mengangkat kepala barongsai, pemain juga harus menyesuaikan gerakan dengan irama musik.
“Dari awal dikasih tahu maunya gimana. Di dalam bisa komunikasi juga. Kalau musik ada yang slow dan cepat,” jelasnya.
Dengan filosofi mengusir keburukan dan mendatangkan keberuntungan, barongsai bukan hanya pertunjukan memukau, tetapi juga simbol doa dan harapan masyarakat dalam menyongsong tahun baru yang lebih baik.(mif/ram)
Editor : Agus Pramono