Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Cap Go Meh di Klenteng Harmoni Kehidupan Sampit, Cerminkan Toleransi dan Kebersamaan di Kotim

Agus Pramono • Rabu, 4 Maret 2026 | 10:20 WIB

Atraksi barongsai mewarnai perayaan Cap Go Meh di Sampit. MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Atraksi barongsai mewarnai perayaan Cap Go Meh di Sampit. MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 

SAMPIT – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Klenteng Harmoni Kehidupan, Selasa (3/3/2026) malam.

Meski sempat diguyur hujan, umat Konghucu di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar ibadah sembahyang Yuen Siao yang dirangkai dengan perayaan Cap Go Meh sebagai penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.

Atraksi barongsai menjadi salah satu hal yang dinantikan. Tak hanya bagi umat Tionghoa, tapi juga seluruh lapisan masyarakat. Begitu tambur, simbal dan gong dimainkan, gerakan lincah dari para pemain barongsai mampu menghipnotis penonton.

Mereka tak hanya bisa menyaksikan atraksi itu. Tapi juga bisa mencicipi makanan longong Cap Go Meh. Makanan tradisional yang disiapkan saat perayaan itu tiba. Dentuman petasan menambah semarak acara yang digelar Selasa malam itu.

Pemuka Agama Konghucu Kotim, Wenshi Suhardi, menjelaskan bahwa Cap Go Meh diperingati setiap tahun, tepat dua minggu setelah Tahun Baru Imlek dan menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian perayaan tersebut.

“Kami melaksanakan ibadah sembahyang Yuen Siao dan peringatan Cap Go Meh. Cap Go Meh ini setiap tahun dirayakan dua minggu setelah Tahun Baru Imlek dan merupakan penutupan dari rangkaian perayaan Imlek. Setelah Cap Go Meh, sudah tidak ada lagi perayaan Imlek,” ujarnya.

Ia menuturkan, sebelum perayaan digelar, umat terlebih dahulu melaksanakan ibadah di dalam klenteng. Setelah itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan hiburan yang dikemas dengan tetap menjaga toleransi antarumat beragama.

“Hiburan di majelis kami ada dua sesi. Pertama pentas seni dari Sekolah Minggu Konghucu yang dilaksanakan di dalam ruangan. Itu tujuannya untuk menghormati saudara-saudara kita yang Muslim yang sedang menunaikan ibadah tarawih. Pertunjukan barongsai kami jeda hingga malam hari agar tidak mengganggu kenyamanan,” jelasnya.

Menurut Wenshi, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Perayaan Cap Go Meh tidak hanya dihadiri umat Konghucu atau etnis Tionghoa, tetapi juga warga dari berbagai latar belakang agama dan daerah.

“Antusias warga sangat baik. Kemeriahan Cap Go Meh ini bukan hanya diperingati oleh umat Konghucu, tapi juga dinikmati bersama oleh masyarakat lainnya. Ini perayaan yang sifatnya universal untuk kebersamaan,” katanya.

Selain hiburan, sajian khas lontong Cap Go Meh menjadi bagian yang tak terpisahkan. Menu tersebut melambangkan kebahagiaan dan kebersamaan yang dibagikan kepada sesama.

“Setiap tahun kita ada makanan ciri khas yaitu lontong Cap Go Meh. Simbolnya adalah berbagi kebahagiaan dengan makan bersama. Harapan kita semua memperoleh kesehatan, kesejahteraan, dan negeri kita dijauhkan dari bencana, konflik intoleransi, serta radikalisme. Kita ingin negara ini selalu kondusif, damai, harmonis, dan rukun,” pungkasnya. (mif)

Editor : Ayu Oktaviana
#kesejahteraan #imlek #Klenteng Harmoni Kehidupan #barongsai #Kotawaringin Timur (Kotim) #Konghucu #tahun baru imlek #cap go meh #tionghoa