SAMPIT– Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan perkembangan kasus dugaan campak hingga akhir Maret 2026 masih terkendali. Tercatat ada 20 kasus dugaan (suspek), namun situasi dipastikan masih dalam kendali dan tidak menunjukkan lonjakan signifi kan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, menjelaskan bahwa secara keseluruhan situasi masih terkendali jika dibandingkan dengan pola kasus pada tahun sebelumnya.
“Kalau melihat tren tahun lalu, kondisi sekarang ini masih relatif normal. Memang ada penambahan, tapi belum mengarah ke peningkatan yang signifi kan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (14/4/2026).
Ia mengungkapkan, hingga akhir Maret jumlah kasus yang tercatat mencapai 20 kejadian yang tersebar di beberapa wilayah. Namun, seluruh kasus tersebut masih berstatus dugaan atau suspek.
“Kasus yang ada saat ini sifatnya masih suspek. Gejalanya memang mengarah ke campak, tapi hasil pemeriksaan laboratoriumnya belum keluar,” jelasnya.
Meski belum terkonfirmasi secara pasti, pihaknya tetap melakukan langkah antisipasi guna mencegah penyebaran lebih luas. Salah satunya dengan memperkuat kewaspadaan di fasilitas layanan kesehatan.
“Kami tetap siaga. Kalau nanti di bulan berikutnya terjadi peningkatan, bukan tidak mungkin jumlahnya bisa melampaui tahun sebelumnya,” katanya.
Dinas Kesehatan juga terus mengingatkan pentingnya pencegahan melalui imunisasi.
Masyarakat diminta memastikan anak mendapatkan vaksin campak-rubella (MR) sesuai jadwal, termasuk dosis lanjutan.
Selain itu, warga diimbau menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi, rajin mencuci tangan, serta menghindari kontak dengan penderita yang menunjukkan gejala serupa.
“Kalau ada gejala seperti demam disertai ruam, sebaiknya segera periksa ke fasilitas kesehatan. Deteksi dini itu penting untuk mencegah penularan,” tambahnya.
Pemerintah daerah berharap, dengan langkah kewaspadaan dan partisipasi masyarakat, potensi penyebaran campak di Kotim dapat ditekan sehingga tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB).(*)
Editor : Ayu Oktaviana