“Harapannya dengan Puskesmas yang representatif sudah memenuhi standar sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh kementerian kesehatan. Harapannya pelayanan ke hadapan masyarakat itu lebih meningkat lebih baik lagi,” katanya.
Meski demikian, Halikinnor mengakui masih ada kendala akses transportasi, khususnya di wilayah Seranau yang berada di seberang sungai Mentaya. Sehingga akses transportasi ke wilayah kota masih mengandalkan jalur air.
“Memang kesulitan kita saat ini adalah kalau untuk Seranau, transportasinya itu masih melalui air. Memang ada lewat jalan darat, tapi kondisi jalannya juga masih belum baik, tapi tetap fungsional,” ungkapnya.
Ia menyebut, pemerintah provinsi telah mengalokasikan anggaran untuk perbaikan infrastruktur jalan, termasuk pembangunan jembatan di sejumlah titik. Upaya ini diharapkan mendukung akses layanan kesehatan bagi masyarakat.
“Alhamdulillah tahun ini kalau tidak salah ada masuk anggaran dari provinsi untuk pembangunan di beberapa titik jalan arah Cempaka Mulia,” tambahnya.
Terkait layanan rujukan, Halikinnor menilai perlu adanya dukungan sarana transportasi dari puskesmas menuju titik penyeberangan agar pasien bisa lebih cepat mendapatkan penanganan lanjutan.
“Yang perlu disiapkan mungkin dari puskesmas ini, misalnya rawat inap di sini, untuk bisa dibawa ke pelabuhan di sini,” jelasnya.
Sementara untuk transportasi penyeberangan, ia memastikan ketersediaannya relatif memadai karena aktivitas perahu masyarakat berlangsung sepanjang hari.
“Kalau untuk penyeberangan, di sini banyak. Tidak harus ada khusus yang kita siapkan, karena 1 kali 24 jam itu selalu ada kelotok menyeberang,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, menyebut total fasilitas kesehatan yang diresmikan mencapai 22 unit, terdiri dari puskesmas dan pustu.
“Alhamdulillah hari ini dilakukan peresmian secara simbolis di Puskesmas Mentaya Seberang. Ada 22 faskes yang kita resmikan, 4 puskesmas dan 18 pustu,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan tersebut juga mendukung penerapan integrasi layanan primer yang kini mulai diterapkan di fasilitas kesehatan.
“Kita berharap fasilitas yang ada ini untuk mendukung integrasi layanan primer. Pola pelayanan kita sekarang sudah berubah, dari sistem poli menjadi sistem klaster, sehingga data pasien lebih terintegrasi dan pelayanan lebih optimal,” jelasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana