SAMPIT – Kecelakaan tragis di Jembatan Kapten Mulyono yang menewaskan satu orang dan melukai satu lainnya pada Minggu (26/4/2026) dini hari memicu desakan agar pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh.
Wakil Ketua II DPRD Kotim, Rudianur, menegaskan persoalan jembatan tersebut sebenarnya sudah lama diingatkan. Ia menyebut, kondisi jembatan yang rusak hingga menyebabkan korban jiwa seharusnya menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan di daerah.
“Sejak lama sudah saya ingatkan pemerintah daerah. Kalau memang tidak bisa dibangun melalui APBD kabupaten, segera dikoordinasikan ke provinsi,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, kejadian yang menelan korban jiwa tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut keselamatan masyarakat. Ia menilai, seluruh pihak di daerah memiliki tanggung jawab atas kejadian tersebut.
“Kalau sudah ada korban, tentu kita semua sebagai pemangku kepentingan ikut bertanggung jawab. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” tegasnya.
Rudianur juga meminta agar pembangunan kembali jembatan dilakukan dengan konstruksi yang layak, bukan sekadar perbaikan sementara.
“Segera dibangun kembali dengan konstruksi yang baik. Secara teknis tentu dinas terkait yang lebih memahami,” katanya.
Terkait wacana tuntutan dari pihak korban terhadap pemerintah daerah, ia menilai hal tersebut merupakan hak masyarakat. Namun ia mengingatkan agar semua pihak tetap mengedepankan kehati-hatian.
“Tuntutan itu hak mereka, silakan saja. Tapi kita juga harus melihat bahwa tidak ada yang menginginkan kejadian ini terjadi,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan persoalan anggaran agar tidak dijadikan alasan untuk menunda perbaikan usai peristiwa itu. Terlebih lagi tingginya aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.
“Dengan adanya kejadian ini, jangan sampai ada alasan anggaran. Menurut saya, anggaran harus bisa disisihkan untuk memperbaiki jembatan itu,” tegasnya.
Diketahui, kecelakaan di Jembatan yang banyak disebut jembatan patah oleh warga Sampit itu diduga, diakibatkan kerusakan pada lantai jembatan.
Kondisi itu diperparah kondisi minim penerangan dan kecepatan kendaraan. Satu korban meninggal dunia di lokasi, sementara satu lainnya mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan di RSUD dr Murjani Sampit.
Jembatan tersebut selama ini kerap dikeluhkan warga karena kondisi lantainya yang cepat rusak dan tidak sebanding dengan tingginya lalu lintas kendaraan, khususnya kendaraan bertonase besar. Warga pun berharap adanya perbaikan permanen agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.(*)
Editor : Ayu Oktaviana