Perbaikan Sementara Tak Bertahan Lama, Ini Biang Kerok Kerusakan Jembatan Patah Kapten Mulyono Sampit
Miftahul Ilma • Dipublikasikan Selasa, 28 April 2026 | 12:00 WIB
Momen Jembatan Kapten Mulyono diperbaiki pada Januari 2026 lalu.Dok Miftah/kaltengpos.jawapos.com
SAMPIT – Kerusakan Jembatan Kapten Mulyono di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tengah menjadi sorotan. Pasalnya, kerusakan itu menimbulkan korban jiwa pada Minggu (26/4/2026) dini hari lalu.
Kerusakan jembatan itu bukan kali pertama terjadi. Perbaikan berkala sudah sering dilakukan. Namun, kerusakan masih terus terjadi.
Kerusakan jembatan itu, diduga dipicu oleh dua faktor utama, yakni pelanggaran tonase kendaraan berat dan hilangnya sejumlah komponen jembatan.
Pengawas Lapangan UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Alfian, menyebut kendaraan bertonase berlebih menjadi penyebab paling dominan.
“Batasnya sekitar 10 ton, tapi yang melintas bisa lebih dari 20 ton. Bahkan truk kontainer juga masih lewat,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Selain itu, hilangnya pelat besi dan baut pada jembatan juga memperparah kondisi. Dugaan pencurian komponen disebut menjadi salah satu pemicu kerusakan semakin cepat.
“Ada pelat besi yang hilang, kemungkinan besar dicuri. Kalau tidak, tidak mungkin hilang begitu saja,” katanya.
Kombinasi beban berlebih dan berkurangnya komponen pengikat membuat struktur jembatan semakin longgar dan rentan rusak.
Meski sudah dilarang, truk-truk itu masih tetap melewati jembatan itu. Padahal, jalan alternatif lain sudah disediakan.
“Pernah ditutup, tapi tetap dilanggar. Ini perlu pengawasan bersama, terutama dari instansi yang menangani lalu lintas,” jelasnya.
Sementara itu, perbaikan yang dilakukan selama ini masih bersifat sementara dan terbatas. Penanganan hanya dilakukan dengan mengganti bagian yang rusak tanpa menyentuh perbaikan menyeluruh.
“Perbaikan hanya penggantian kayu ulin yang patah dan baut yang lepas atau hilang. Tidak ada perbaikan total,” ungkapnya.
Material yang digunakan pun merupakan kayu ulin bekas dari bongkaran jembatan lama, sehingga daya tahannya tidak maksimal. Akibat kondisi tersebut, perbaikan hanya mampu bertahan dalam waktu singkat.
“Kayu yang dipakai itu kayu bekas, jadi kualitasnya tidak sekuat material baru,” ujarnya.
“Paling bertahan dua sampai tiga bulan. Setelah itu biasanya rusak lagi karena struktur jembatan sudah banyak yang longgar,” imbuhnya.
Sebelumnya, Bupati Kotim, Halikinnor, mengatakan pemangkasan anggaran infrastruktur menjadi salah satu penyebab tertundanya pembangunan jembatan yang kini kondisinya memprihatinkan.
“Ini sebenarnya sudah kita anggarkan, tapi kemarin dicoret dari pusat. Yang dipangkas itu infrastruktur, termasuk jembatan dan jalan,” katanya. (*)