SAMPIT- Jalan HM Arsyad yang menghubungkan Kota Sampit ke wilayah Samuda, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menuai sorotan. Jalan itu diketahui memiliki aspal yang terkelupas dan bergelombang.
Padahal, jalan itu merupakan jalan lintas yang menghubungkan Sampit dan Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan. Kerusakan itupun membahayakan pengendara khususnya roda dua.
Hingga Jumat (22/5/2026) kondisi jalan masih sama. Para pengendara harus ekstra hati-hati dan mengurangi kecepatan. Terlebih lagi, banyak truk-truk berbadan besar yang lalu lalang melalui jalan tersebut.
Di sejumlah titik, kerusakan bahkan terlihat cukup parah. Lubang menganga dan permukaan jalan yang bergelombang membuat pengendara harus bermanuver menghindari kerusakan. Saat hujan turun, kondisi jalan makin rawan lantaran lubang tertutup genangan air.
Meski demikian, ruas jalan tersebut ternyata sudah masuk dalam penanganan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Pemerintah mengklaim perbaikan infrastruktur terus digenjot untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Baca Juga: Kapolda dan Pakar Soroti Keselamatan Jalan di Kalteng, Smart City hingga Lima Pilar Jadi Solusi
Masuk 15 Ruas Prioritas Perbaikan
Pemerintah Provinsi Kalteng melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) telah mencatat hingga Maret 2026 sebanyak 15 ruas jalan strategis telah ditangani.
Kepala Dinas PUPR Kalteng, Juni Gultom mengatakan, penanganan itu terdiri dari pemeliharaan rutin dan perbaikan intensif di sejumlah ruas prioritas.
“Seluruh rangkaian pemeliharaan ini bertujuan utama untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan bagi seluruh pengguna jalan,” ujarnya dalam keterangan resmi di Palangka Raya, Maret lalu.
Ia menjelaskan, dari total 15 ruas tersebut, sebanyak 10 ruas masuk pemeliharaan rutin, sementara lima ruas lainnya mendapat penanganan khusus akibat kerusakan yang dianggap mendesak.
Salah satu ruas yang masuk penanganan yakni jalur Sampit–Samuda–Ujung Pandaran di Kabupaten Kotim. Ruas ini memang menjadi jalur vital penghubung aktivitas masyarakat hingga distribusi logistik. Namun, saat ini kondisi jalan itu masih terkelupas.
Tak hanya Kotim, sejumlah jalan di kabupaten lain juga masuk daftar. Diantaranya di Kotawaringin Barat, pemeliharaan dilakukan pada ruas Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama hingga Riam Durian.
Di Kabupaten Gunung Mas, perbaikan dilakukan di ruas Bawan–Kuala Kurun, terutama pada penutupan lubang jalan.
Di Kapuas, Pemprov Kalteng menjalin kolaborasi dengan pihak swasta, termasuk PT Lifere Agro Kapuas, dalam pemeliharaan ruas Tahai–Balanti–Gadabung–Terusan.
Adapun di Barito Timur dan Seruyan, perbaikan dilakukan masing-masing pada ruas Pasar Panas–Bentot dan Sukorejo–Tumbang Bai.
Baca Juga: Ruas Jalan Sampit-Samuda yang Rusak Parah Tanggung Jawab Pemprov Kalteng, Bukan Pemkab Kotim
Tak hanya memperbaiki permukaan jalan, Pemprov Kalteng juga melakukan penutupan 2.351 lubang jalan di berbagai titik rawan kecelakaan.
Selain itu, pemotongan rumput di bahu jalan sepanjang 1.651,39 kilometer dilakukan guna meningkatkan jarak pandang pengendara.
Secara umum, kualitas infrastruktur jalan milik Pemerintah Provinsi Kalteng diklaim mengalami peningkatan cukup signifikan. Dari total ruas jalan provinsi sepanjang 1.275,60 kilometer, tingkat kemantapan jalan kini telah menyentuh angka 87,33 persen.
Capaian tersebut bahkan melampaui kondisi kemantapan jalan nasional di wilayah Kalteng yang berada di level 82,30 persen dari total panjang jalan nasional mencapai 2.084,29 kilometer.
Meski begitu, persoalan jalan di tingkat kabupaten dan kota masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sebab, tingkat kemantapan jalan daerah baru berada di angka 38,44 persen dari total panjang ruas mencapai 14.565,03 kilometer.
Baca Juga: Pengguna Jalan Mengeluh Sampit–Samuda Rusak Parah! Rawan Kecelakaan
APBD Anjlok, Perbaikan Belum Maksimal
Di tengah sorotan masyarakat terhadap kerusakan Jalan HM Arsyad, Ketua DPRD Kalteng, Arton S Dohong mengakui penanganan jalan provinsi memang belum maksimal akibat keterbatasan anggaran.
“Pemerintah provinsi pasti memprogramkan, karena itu menjadi tanggung jawab dari pemerintah provinsi. Hanya saja yang jadi persoalan barangkali masalah pendanaan,” katanya saat diwawancarai awak media sewaktu kunjungan ke Kotim, Rabu (19/5/2026) sore.
Arton mengungkapkan kondisi APBD Kalteng dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan drastis. Bahkan pada 2026, anggaran daerah turun hampir separuh dibanding sebelumnya.Baca Juga: Video Warga Terobos Banjir Setinggi Dada di Mentaya Hulu Viral, Akses Jalan Masih Lumpuh
“Dua tahun berturut-turut ini APBD kita menurun sangat drastis. Di tahun 2026 ini dari Rp10 triliun menjadi Rp5,4 triliun,” ujarnya.
Menurutnya, dari total APBD tersebut, belanja langsung untuk pembangunan fisik hanya sekitar Rp1,5 triliun. Anggaran itu harus dibagi untuk menangani ribuan kilometer jalan provinsi di 13 kabupaten dan satu kota.
Baca Juga: APBD Kalteng Terpangkas 50 Persen, Agustiar Sabran: Program yang Menyentuh Rakyat Tetap Prioritas
“Membagikan anggaran yang begitu besar yang cuma Rp1,5 triliun dengan ruas wilayah ada 13 kabupaten satu kota itu tidak gampang,” imbuhnya.
Meski begitu, Arton berharap penanganan Jalan HM Arsyad tetap bisa dilakukan bertahap pada tahun-tahun mendatang.
“Kita harapkan ya semoga di tahun-tahun berikutnya itu akan bisa ditangani. Dengan bahasa lain lebih enak yang ada aspalnya sedikit, yang terkupas-kupas daripada jalan tanah,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana