SAMPIT – Peran masyarakat dalam membantu penanganan kebakaran di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus diperkuat melalui pembentukan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar). Ni
Hingga pertengahan tahun 2026, jumlah relawan yang aktif tercatat mencapai 250 orang dan tersebar di sejumlah wilayah kecamatan.
Keberadaan Redkar selama ini menjadi ujung tombak penanganan awal ketika terjadi kebakaran maupun kondisi darurat lainnya.
Tak jarang, para relawan menjadi pihak pertama yang tiba di lokasi sebelum petugas pemadam kebakaran datang.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim, Ahmad Taufiq, mengatakan kehadiran Redkar sangat membantu mempercepat respons penanganan kebakaran di lapangan.
“Saat ini terdapat sekitar 250 anggota Redkar yang sudah terbentuk di enam kecamatan. Mereka selalu terlibat saat terjadi kebakaran dan bekerja bersama personel kami dalam proses penanganan di lokasi kejadian,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Jumlah tersebut bertambah setelah Disdamkarmat kembali membentuk kelompok relawan baru di wilayah pesisir.
Sebanyak 72 anggota baru resmi bergabung, terdiri dari 32 orang di Kecamatan Mentaya Hilir Utara dan 40 orang di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.
Menurut Taufiq, Redkar dibentuk sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
Selain membantu pemadaman awal, relawan juga berperan memberikan pertolongan saat kondisi darurat serta melakukan edukasi kepada warga mengenai bahaya kebakaran.
Ia menjelaskan, salah satu tugas penting Redkar adalah menahan laju api agar tidak cepat meluas ketika kebakaran baru terjadi.
Langkah tersebut dinilai sangat penting mengingat waktu tempuh petugas menuju lokasi terkadang cukup jauh.
“Mereka membantu melakukan tindakan awal sebelum armada damkar tiba. Dengan upaya pelokalisiran yang dilakukan relawan, risiko kebakaran meluas bisa ditekan dan proses pemadaman menjadi lebih efektif,” katanya.
Tidak hanya menangani kebakaran rumah dan bangunan, para relawan juga turut dilibatkan dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga.
Meski bersifat sukarela, anggota Redkar tetap mendapatkan pembekalan secara berkala dari Disdamkarmat. Pelatihan yang diberikan mencakup teknik pemadaman, penyelamatan, hingga penggunaan peralatan keselamatan.
“Karena mereka berada dalam pembinaan Disdamkarmat, kami rutin memberikan pelatihan dan dukungan perlengkapan seperti selang pemadam maupun alat pelindung diri untuk menunjang tugas mereka,” ucapnya.
Meski jumlah relawan terus bertambah, kebutuhan Redkar di Kotim masih cukup besar. Berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM), daerah seluas Kotim yang memiliki 17 kecamatan idealnya didukung sekitar 1.000 relawan.
Karena itu, Disdamkarmat berencana melanjutkan pembentukan Redkar di kecamatan-kecamatan yang hingga kini belum memiliki kelompok relawan kebakaran.
“Pembentukan Redkar akan terus kami lanjutkan setiap tahun. Targetnya seluruh wilayah memiliki relawan sehingga perlindungan masyarakat terhadap ancaman kebakaran dapat semakin optimal,” imbuhnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana