Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Beruang Madu Muncul Saat Musim Buah, Warga Sungai Paring Kotim Resah

Miftahul Ilma • Senin, 15 Juni 2026 | 09:45 WIB
Warga Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), digegerkan dengan kemunculan beruang madu
Ilustrasi beruang madu 

 

SAMPIT-Warga Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), digegerkan dengan kemunculan beruang madu, Minggu (14/6/2026).

Kemunculan satwa dilindungi itu diduga terjadi karena memasuki musim buah. Beruang madu tersebut mulai mendekati permukiman warga untuk mencari sumber makanan sehingga menimbulkan keresahan masyarakat.

Kemunculan itu dilaporkan warga bernama Mayang. Ia melaporkan adanya beruang madu berukuran besar yang terlihat memanjat pohon rambutan miliknya yang sedang berbuah.

Terkait hal itu, Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Muriansyah mengatakan pihaknya akan melakukan observasi serta memasang perangkap untuk menangani kemunculan satwa tersebut.

“Hari ini kita akan observasi dan memasang perangkap. Sepertinya dia naik pohon untuk memakan buah rambutan,” ujarnya, Senin (15/6/2026).

Laporan kemunculan beruang madu rupanya tidak hanya terjadi di Desa Sungai Paring.

Warga Desa Luwuk Ranggan juga melaporkan melihat kemunculan satwa tersebut. Bahkan, warga mengaku takut beraktivitas di kebun.

Selain beruang madu, BKSDA Resort Sampit juga menerima laporan kemunculan orangutan. Laporan itu berasal dari warga Dusun Rongkang, Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hulu. Seorang warga mengaku melihat orangutan di kebun buah miliknya.

Menurut Muriansyah, fenomena satwa liar memasuki kebun warga disebabkan kondisi hutan yang semakin sempit. Hal tersebut membuat satwa liar kesulitan mencari sumber makanan dan air di habitat alaminya.

“Biasanya mereka mencari makan. Karena hutan makin sempit, jadi mereka sulit mencari makan. Saat musim buah seperti ini, mereka berani memasuki kebun warga,” bebernya.

Selain musim buah, kondisi kemarau yang disertai potensi kebakaran hutan dan lahan juga menjadi salah satu faktor satwa berpindah lokasi. Satwa cenderung mencari wilayah yang masih menyediakan sumber air dan makanan.

“Biasanya saat musim buah dan kemarau, satwa liar mendatangi kebun, ladang, dan sekitar permukiman untuk mencari makan dan minum serta menghindari kebakaran dan asap,” katanya.

Muriansyah menyebut, masyarakat yang tinggal berdekatan dengan habitat satwa memiliki sejumlah langkah antisipasi untuk mengurangi risiko gangguan. Salah satunya dilakukan petani dengan memberikan penghalang pada batang pohon buah agar tidak mudah dipanjat satwa tertentu.

“Untuk durian biasanya warga menyelimuti batang durian dengan seng di bagian bawah batang agar satwa liar tidak bisa naik ke pohon,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan warga agar tidak mengambil tindakan yang dapat membahayakan satwa dilindungi apabila menemukan kemunculan di sekitar lingkungan. Penanganan sebaiknya diserahkan kepada pihak yang memiliki kewenangan.

“Warga sebaiknya melapor ke petugas atau perangkat desa setempat. Jangan berusaha menangkap, melukai, atau membunuh satwa tersebut,” imbuhnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
#BKSDA Resort Sampit #beruang madu #orang utan #Desa Sungai Paring #satwa liar