Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Cerita di SMPN 3 Sampit: Aroma Tak Sedap dari Depo Sampah Begitu Menyengat, Peserta Didik Baru Kerap Merasa Mual

Miftahul Ilma • Senin, 13 Juli 2026 | 16:30 WIB
Kondisi depo sampah di dekat SMPN 3 Sampit.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Kondisi depo sampah di dekat SMPN 3 Sampit.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diwarnai antusias anak-anak pada Senin (13/7/2026). 

Sejak pagi, mereka diantar para orang tua dan berbaris tertib di hari pertama masuk sekolah. 

Baca Juga: MPLS  Tak Hanya Kenalan Dengan Guru, tapi Melatih Murid Mandiri dan Berkarakter

Namun, dibalik antusiasme para siswa itu, aroma sampah dari depo sampah tak jauh dari sekolah menyambut mereka. 

Bak ucapan selamat datang, para peserta didik baru harus menahan aroma saat pertama kali menginjakan kaki. 

Selama enam tahun terakhir, aktivitas pengelolaan sampah di sekitar sekolah disebut terus memunculkan aroma menyengat yang mengganggu proses belajar mengajar.

Kepala SMP Negeri 3 Sampit, Siti Khadijah, mengaku kondisi tersebut menjadi kenyataan yang harus dihadapi guru maupun ratusan siswa setiap hari. 

Menurutnya, siapa pun yang datang ke sekolah akan langsung merasakan sendiri bau menyengat yang muncul. Terutama saat aktivitas pembongkaran sampah berlangsung.

Baca Juga: SD Islam Darussalam Palangka Raya Sambut 64 Murid Baru Dengan Lawang Sakepeng pada Hari Pertama MPLS

“Mungkin saya tidak perlu banyak penjelasan tentang bau sampah. Mungkin Mbak-Mbak merasakan sendiri bagaimana rasanya kami selama 8 jam di sekolah mencium bau seperti itu. Itulah keadaan sekolah kami,” katanya, Senin (13/7/2026). 

Ia mengatakan persoalan tersebut telah berlangsung sejak 2020. Berbagai upaya koordinasi dengan pemerintah daerah sudah dilakukan, termasuk meminta aktivitas pembongkaran sampah tidak dilakukan pada jam belajar. 

“Kami hanya berharap semoga bau itu berakhir. Berakhir sehingga anak-anak yang berada di lingkungan ini merasa nyaman sekolah,” ujarnya.

Ia menjelaskan pemerintah daerah sempat memberikan solusi dengan menutup pintu samping lokasi agar bau tak menyebar.

Namun menurutnya, sumber gangguan justru muncul ketika aktivitas pembongkaran dilakukan pada pagi hari, bertepatan dengan kegiatan belajar mengajar.

“Kami berharap kalau memang pemerintah daerah masih belum ada solusi untuk itu, kami berharap aktivitasnya jangan saat jam belajar. Kalau jam belajar kan mungkin merasakan sendiri kan gimana rasanya?,” ucapnya.

“Saya nggak bisa membohongi, saya nggak bisa menutup-nutupi, inilah keadaannya,” lanjutnya.

Meski harus belajar di tengah aroma sampah, SMP Negeri 3 Sampit tetap mencatatkan berbagai prestasi. Sekolah tersebut telah meraih predikat Adiwiyata Nasional, melahirkan juara bulu tangkis tingkat nasional, hingga menjadi satu-satunya SMP di Kotim yang memperoleh penghargaan sekolah berprestasi dari Kementerian pada 2026.

Menurut Siti, kondisi lingkungan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berprestasi. Semangat itulah yang terus ditanamkan kepada guru dan para siswa.

“Kami harus bangkit. Kami tidak boleh terhenti oleh keadaan seperti ini. Kita harus bangkit. Kita tunjukkan bahwa kita bisa, kita mampu,” katanya.

Tingginya minat masyarakat juga disebut menjadi bukti bahwa kepercayaan terhadap sekolah tetap tinggi. Pada penerimaan peserta didik baru tahun ini, sekolah menerima 288 siswa dari total 452 pendaftar.

Peserta Didik Baru Sering Mengeluh Mual

Di sisi lain, dampak aroma sampah masih dirasakan terutama oleh peserta didik baru.

Meski belum ada laporan gangguan kesehatan serius, keluhan mual dan muntah kerap muncul pada masa awal mereka bersekolah.

“Sejauh ini tidak ada pelaporan, cuma kadang-kadang mereka mual muntah. Kalau baru-baru mengeluh mual, muntah,” ungkapnya.

Meski begitu, Siti mengatakan para siswa akhirnya terbiasa dengan kondisi tersebut. Namun ia berharap pemerintah daerah dapat segera menemukan solusi permanen agar sekitar 896 siswa dapat belajar di lingkungan yang lebih sehat dan nyaman.

“Semoga pemerintah daerah mendapatkan solusi yang terbaik untuk anak-anak kita,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
#smp negeri 3 sampit #gangguan kesehatan #mpls #depo sampah