IDI Lampung Sebut Tak Ada Indikasi Bullying dan Overwork Dalam Kematian dr Muhammad Zulfikar Drakel

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 13:35 WIB
Dokter muda Muhammad Zulfikar Drakel
Dokter muda Muhammad Zulfikar Drakel

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Lampung membeberkan hasil investigasi awal atas meninggalnya dokter peserta Program Internship Dokter Indonesia (PIDI), dr Muhammad Zulfikar Drakel. 

Hasilnya tidak menemukan tanda-tanda perundungan, beban kerja berlebihan, maupun kekerasan selama almarhum menjalani masa penugasan di RSUD Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim investigasi menelusuri berbagai aspek selama almarhum bertugas. 

Baca Juga: Dokter Internship Asal Kotim Ditemukan Tewas di Kamar Mandi Penginapan di Lampung

Ketua IDI Wilayah Lampung, dr Josi Harnos, mengatakan pemeriksaan dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari rekan sesama dokter internship, dokter pendamping, manajemen rumah sakit, hingga direktur rumah sakit.

“Jadi hasil investigasi yang dilakukan menunjukkan tidak ditemukan indikasi overwork atau kerja berlebihan. Kami juga tidak menemukan adanya bullying maupun kekerasan di tempat kerja,” katanya, mengutip Antara, Jumat (24/7/2026).

Meski demikian, penyebab pasti wafatnya dokter muda asal, Kabupaten Kotawaringin Timur, itu belum dapat dipastikan. Dari hasil penelusuran sementara, tim menemukan dugaan adanya penyakit penyerta yang sebelumnya tidak pernah teridentifikasi.

“Dari hasil penelusuran, ditemukan dugaan adanya penyakit penyerta yang tidak pernah diketahui sebelumnya,” ujarnya.

Baca Juga: Pemakaman dr Muhammad Zulfikar Drakel Berlangsung Haru, Tangis Sang Kakak Pecah di Depan Pusara

Selain dugaan penyakit penyerta, tim investigasi juga menemukan indikasi infeksi di dalam tubuh almarhum. Namun, jenis maupun sumber infeksi tersebut belum bisa dipastikan lantaran keluarga memutuskan tidak mengizinkan dilakukan autopsi.

“Ada infeksi, tetapi tidak bisa ditegakkan infeksi apa, di mana, dan seperti apa, karena pihak keluarga menolak dilakukan autopsi. Kami menghormati keputusan keluarga tersebut,” katanya.

Josi menjelaskan, karakter dr Zulfikar yang dikenal pendiam turut menyulitkan proses penelusuran riwayat kesehatannya. Selama menjalani program internship sekitar enam bulan di RSUD Sukadana, almarhum juga tinggal terpisah dari sebagian rekan sejawatnya sehingga kondisi kesehatannya tidak banyak diketahui orang di sekitarnya.

“Sehingga meninggalnya dokter Zulfikar ini tidak bisa disamakan dengan kasus-kasus sebelumnya yang terjadi, karena penyebabnya berbeda,” ujarnya.

IDI Lampung turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian dokter berusia 25 tahun tersebut. Organisasi profesi itu juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam proses investigasi, termasuk Kementerian Kesehatan, Kepolisian, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes), Pengurus Besar IDI, serta Dinas Kesehatan Provinsi Lampung.

Baca Juga: Ayah dr Muhammad Zulfikar Drakel Ungkap Komunikasi Terakhir dan Dapat Kabar dari Polisi 

“Kami juga mengapresiasi keterlibatan Kementerian Kesehatan, Kepolisian, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes), Pengurus Besar IDI, serta Dinas Kesehatan provinsi, dalam proses investigasi,” katanya.

Berdasarkan temuan tersebut, IDI Wilayah Lampung merekomendasikan agar Kementerian Kesehatan memperketat pemeriksaan kesehatan bagi calon dokter internship sebelum ditempatkan di daerah penugasan. 

Menurut Josi, pemeriksaan yang selama ini dilakukan masih bersifat dasar sehingga dikhawatirkan belum mampu mendeteksi penyakit tertentu sejak dini.

“Kalau nantinya penyebab berkaitan dengan infeksi atau penyakit penyerta yang sudah ada sebelumnya, kami merekomendasikan agar calon dokter internship menjalani skrining kesehatan yang lebih menyeluruh. Kalau ditemukan misalnya dokter tersebut menderita diabetes atau penyakit lainnya, bisa ditatalaksana terlebih dahulu,” tegas Josi.

Ia mengaku sempat berinteraksi dengan almarhum melalui pertemuan daring saat memberikan materi etik kedokteran kepada para peserta internship yang baru ditempatkan di Provinsi Lampung.

Sementara itu, Kapolres Metro AKBP Hangga Utama Darmawan menegaskan penyelidikan kepolisian masih berlangsung. Polisi masih mengumpulkan fakta dan keterangan untuk memastikan penyebab kematian dr Zulfikar sehingga masyarakat diminta tidak berspekulasi.

“Masih dalam proses pendalaman. Tim penyelidik masih bekerja mengumpulkan keterangan dan fakta di lapangan,” kata Hangga.

Ia menambahkan, hingga kini penyidik belum dapat menyimpulkan ada atau tidaknya unsur pidana dalam kasus tersebut. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
muhammad zulfikar drakel skrining kesehatan bullying Ikatan Dokter Indonesia (IDI)