Jam Masuk Sekolah di Kotim Bisa Diubah Jika Kabut Asap Karhutla Memburuk

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 10:00 WIB
Kabut asap di Kotim pada tahun 2023 lalu.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Kabut asap di Kotim pada tahun 2023 lalu.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuka peluang mengubah jam masuk sekolah apabila kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat. 

Kebijakan tersebut akan disesuaikan dengan kondisi kualitas udara di lapangan dan hasil evaluasi bersama Dinas Kesehatan serta Dinas Pendidikan.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, untuk saat ini kegiatan belajar mengajar masih berlangsung seperti biasa. Namun, pemerintah telah menginstruksikan instansi terkait untuk terus memantau perkembangan kabut asap, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga September.

Baca Juga: Dinkes Kalteng Siapkan Dua Rumah Singgah Oksigen, Ajak Warga Siap Hadapi Potensi KLB Asap

“Pendidikan tadi sudah saya sampaikan, dievaluasi dulu. Sepanjang masih bisa dengan jam sekarang, itu tidak masalah,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, apabila kondisi asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat pada pagi hari, penyesuaian jam masuk sekolah menjadi salah satu opsi yang akan diterapkan demi menjaga kesehatan peserta didik.

“Tapi apabila misalnya asap mulai pagi itu sudah kabur, kan tidak mungkin anak-anak kita dipaksakan. Bisa saja jamnya dimundurkan,” jelasnya. 

“Makanya saya instruksikan Dinas Kesehatan dengan Dinas Pendidikan berkoordinasi. Mereka yang mengevaluasi secara teknis,” lanjutnya.

Halikinnor menjelaskan, langkah antisipasi tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan pemerintah setelah status penanganan karhutla di Kotim resmi ditingkatkan dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat mulai 30 Juli hingga 26 Agustus 2026. 

Ia menyebutkan, berdasarkan prakiraan cuaca, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Karena itu, seluruh perangkat daerah diminta bersiap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk dampaknya terhadap sektor pendidikan.

“Ramalannya Agustus sampai September itu puncaknya. Mudah-mudahan tidak separah yang diperkirakan, tetapi kita tetap harus bersiap dan mengantisipasi apabila kondisi itu memang terjadi,” bebernya.

Selain sektor pendidikan, Pemkab Kotim juga menyiapkan berbagai langkah penanganan karhutla, mulai dari kesiapan armada pemadam, distribusi air bersih, hingga penguatan koordinasi lintas instansi untuk meminimalkan dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap masyarakat. (*)

Editor : Agus Pramono
kabut asap karhutla kaarhutla kotim kabut asap sekolah di Kotim