SAMPIT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meminta seluruh sekolah membiasakan kegiatan sarapan bergizi bersama dan konsumsi tablet tambah darah (TTD) setiap pekan sebagai upaya menekan tingginya kasus anemia pada remaja putri.
Langkah tersebut merupakan bagian dari Program Aksi Bergizi yang digagas Kementerian Kesehatan. Program ini menyasar remaja putri karena kelompok tersebut dinilai lebih rentan mengalami anemia akibat kehilangan darah saat menstruasi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinkes Kotim, dr. Noorliyana mengatakan, angka anemia pada remaja putri masih menjadi perhatian, baik secara nasional maupun di Kabupaten Kotim.
Kondisi tersebut perlu dicegah sejak dini karena akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan anak di masa mendatang.
“Kita tahu jumlah anemia pada remaja putri itu masih cukup tinggi, baik di Indonesia maupun di Kotawaringin Timur,” ujarnya usai membuka acara Gerakan Aksi Bergizi di Sekolah, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, program Aksi Bergizi tidak hanya mengedepankan konsumsi tablet tambah darah, tetapi juga membiasakan pola makan bergizi seimbang yang terdiri dari karbohidrat, protein, buah-buahan, serta aktivitas fisik.
Menurutnya, remaja putri yang bebas anemia memiliki peluang lebih besar menjadi ibu yang sehat sehingga mampu melahirkan generasi berkualitas.
“Perempuan-perempuan itu kan calon-calon ibu. Kalau dari remaja dia sudah tidak anemia, sudah terjaga kualitas gizinya, insyaallah dia akan melahirkan generasi-generasi yang sehat,” katanya.
Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, Dinkes Kotim mendorong setiap sekolah mengagendakan sarapan bersama dan minum tablet tambah darah minimal satu kali setiap minggu.
“Kalau untuk sarapan bersama dengan minum tablet tambah darah diusahakan di setiap sekolah itu tiap minggu harus ada. Karena minum tablet tambah darah itu satu minggu satu kali,” jelasnya.
Ia menambahkan, tablet tambah darah disediakan secara gratis oleh puskesmas, sedangkan menu sarapan dibawa masing-masing siswa dari rumah dengan memperhatikan prinsip gizi seimbang.
“Kalau tablet tambah darah dari puskesmas itu gratis. Kalau sarapannya dibawa oleh anak murid sendiri dari rumah,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana