SAMPIT – Orang tua diminta tidak menganggap perubahan perilaku anak sebagai hal biasa.
Densus 88 Antiteror Polri mengingatkan terdapat sejumlah tanda yang patut diwaspadai ketika anak mulai terpapar paham kekerasan. Paham itu acap kali didapat melalui media sosial maupun ruang digital.
Komandan Tim Investigasi dan Sosialisasi (Idensos) serta Pencegahan Densus 88 Antiteror, IPTU Ganjar Satrio mengatakan, perubahan paling awal dapat terlihat dari hubungan sosial anak.
Anak yang sebelumnya aktif bermain bersama teman sebaya dapat berubah menjadi lebih tertutup dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan gadget.
“Yang pertama, anak akan keluar dari circle permainannya. Yang tadinya dia berteman dengan orang banyak, dengan teman-teman sebaya, dia akan asyik kepada gadget-nya saja. Dia akan introvert,” katanya, Selasa (11/8/2026).
Selain menarik diri dari lingkungan pergaulan, perubahan lain yang perlu diperhatikan adalah munculnya ujaran kebencian dan sikap agresif terhadap keluarga. Hal itu bisa saja diperoleh saat bermain game online yang acap kali melontarkan kata-kata kasar antar pengguna.
“Yang kedua, anak akan melakukan ujaran kebencian secara brutal. Kota tahu sendiri kalau main game online seperti itu. Jadi dia akan cenderung melawan orang tua secara brutal,” ujarnya.
Ganjar juga meminta orang tua memperhatikan perubahan sikap anak terhadap barang pribadi, terutama telepon seluler. Anak yang mulai sangat defensif ketika gadget diperiksa orang tua dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih.
Baca Juga: Anak Usia Sekolah di Kotim Terpapar Paham Kekerasan lewat Media Sosial
“Anak-anak akan menganggap barang milik pribadinya adalah barang-barang yang sangat rahasia. Dia akan defend dengan barang pribadinya. Contohnya HP, mau dilihat orang tuanya, dia akan mempertahankan,” jelasnya.
Menurut Ganjar, kondisi keluarga juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Ia menyebut sebagian anak yang terpapar paham kekerasan memiliki persoalan dalam lingkungan keluarga atau pernah mengalami perundungan.
“Dan yang paling menonjol, anak tersebut sering dan pernah menjadi korban bully,” katanya.
Karena itu, Ganjar menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam kehidupan anak. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan sekolah karena pembentukan karakter juga sangat bergantung pada keluarga.
“Ini perlunya keluarga, peran keluarga terbawah ini untuk mendidik anaknya. Rata-rata anak-anak (yang terpapar) ini kurang kasih sayang. Jadi tangki kasih sayangnya enggak ada,” ujarnya.
Ia meminta orang tua tidak langsung menghakimi ketika menemukan perubahan perilaku. Anak yang terpapar harus dipandang sebagai korban yang membutuhkan pendampingan, sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum paparan berkembang menjadi tindakan kekerasan. (*)
Editor : Agus Pramono