SAMPIT – Kalimantan Tengah (Kalteng) salah satunya Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) disebut bukan wilayah yang menjadi sasaran utama aksi teror.
Namun memiliki posisi yang perlu mendapat perhatian dalam upaya deteksi dini.
Densus 88 Antiteror Polri menyebut Kotim dapat menjadi jalur persinggahan bagi jaringan terorisme.
Baca Juga: Anak Usia Sekolah di Kotim Terpapar Paham Kekerasan lewat Media Sosial
Komandan Tim Investigasi dan Sosialisasi (Idensos) serta Pencegahan Densus 88 Antiteror Iptu Ganjar Satrio mengatakan, karakter Kotim sebagai wilayah dengan akses darat, laut dan udara serta aktivitas perkebunan dan industri membuat pengawasan terhadap pendatang dan tempat tinggal sementara menjadi penting.
“Kalimantan Tengah bukan tempat yang strategis untuk dilakukan aksi, tetapi Kalimantan Tengah merupakan jalur sutra di mana untuk tempat pendinginan, perencanaan,” katanya saat berada di Sampit, Selasa (11/8/2026) lalu.
Ia menjelaskan, istilah pendinginan merujuk pada tempat yang digunakan setelah aksi, sedangkan perencanaan berkaitan dengan persiapan sebelum aksi dilakukan.
“Beberapa tokoh-tokoh teror itu pernah lewat Sampit. Ini merupakan jalur sutra,” ujarnya.
Menurut Ganjar, perhatian tidak hanya diarahkan kepada kawasan perkotaan, tetapi juga tempat tinggal sementara seperti barak pekerja dan rumah kos.
Baca Juga: Orang Tua Wajib Tau! Densus 88 Ungkap Ciri Anak Terpapar Paham Kekerasan
Hal ini mengingat sebagian orang yang pernah ditangani dalam kasus terorisme di Kalimantan Tengah bukan merupakan penduduk asli daerah tersebut.
“Dan perlu saya sampaikan di sini, rata-rata yang kita lakukan penangkapan di Kalimantan Tengah, itu bukan orang asli Kalteng,” katanya.
Ganjar menegaskan pernyataan tersebut bukan untuk memberikan stigma kepada pendatang. Yang menjadi perhatian adalah keberadaan seseorang yang tinggal secara sementara dan berpotensi menggunakan lingkungan tersebut untuk menyebarkan paham atau menyusun rencana aksi.
“Di barak-barak, dia akan mencoba menyebarkan. Nah, ini pentingnya semuanya dari RT, RW. Jangan hanya yang penting barak saya penuh. Bukan itu, Bro! Kita juga sama-sama deteksi,” tegasnya.
Baca Juga: Ruang Digital Bisa Jadi Tempat Anak Terpapar Paham Kekerasan Hingga Radikalisme, Densus 88 Beberkan
Ia menyebut deteksi dini tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat. Pemilik barak, pengelola kos, lingkungan RT dan RW hingga masyarakat memiliki peran dalam mengenali aktivitas yang mencurigakan.
Ganjar mencontohkan, salah satu pelaku yang terkait dengan aksi bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung, pada 2022 lalu diketahui memiliki keterkaitan dengan jaringan yang juga ditangani di Kalimantan Tengah.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak mengabaikan potensi ancaman hanya karena Kotim bukan daerah yang secara langsung menjadi sasaran aksi teror. (*)
Editor : Ayu Oktaviana