Pemkab Kotim Berencana Gelar Salat Minta Hujan untuk Redam Amukan Karhutla

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:32 WIB
Salat Istisqa pada musim karhutla tahun 2023.(Dok Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Salat Istisqa pada musim karhutla tahun 2023.(Dok Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

 

SAMPIT – Upaya menghadapi musim kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).

 Pemerintah daerah juga menyiapkan salat istisqa atau salat meminta hujan.

Rencana tersebut muncul di tengah kondisi sejumlah sumber air yang mulai mengering dan kebakaran lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. 

Baca Juga: Modifikasi Cuaca Dilakukan hingga 17 Agustus, Satgas Karhutla Kotim Berharap Hujan Bisa Terwujud

Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel mengatakan, rencana salat istisqa telah dibicarakan bersama Wakapolres Kotim dan Sekda Kotim. Rencananya, salat sunnah itu akan digelar dalam waktu dekat

“Mudah-mudahan dilakukan kalau memang ada kesepakatan dan titik waktunya mungkin malam Minggu sih kalau tidak salah rencananya,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Meski demikian, waktu dan lokasi pelaksanaan masih belum dipastikan. Pemerintah masih membahas tempat yang paling memungkinkan untuk menampung masyarakat yang akan mengikuti kegiatan tersebut.

“Masih belum (ditentukan). Apakah di Rujab kah nanti, apakah dilakukan di lapangan seperti dulu. Kalau di lapabgan, kita gunakan lapangan Pemda,” katanya. 

Salat istisqa tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar pemerintah di tengah kondisi kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG, puncak kemarau di Kotim masih diperkirakan berlangsung hingga September.

Selain melalui doa, pemerintah tetap menjalankan langkah teknis untuk mengurangi dampak kemarau dan karhutla.

Salah satunya melalui OMC yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dengan menyemai garam menggunakan pesawat ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Namun, efektivitas OMC sangat bergantung pada kondisi awan, arah serta kecepatan angin. Karena itu, hujan yang diharapkan turun di wilayah kebakaran belum tentu jatuh tepat di lokasi tersebut.

Rihel berharap seluruh upaya tersebut dapat membantu mengurangi kekeringan sekaligus menekan ancaman karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim.

“Mudah-mudahan dengan doa istisqa itu hujan bisa turun di wilayah kita,” pungkasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
karhutla kotim salat istisqa hujan