Bupati Kotim Halikinnor: Isi Kemerdekaan Bukan Lagi Angkat Senjata, tapi Kerja Nyata

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 14:43 WIB
Upacara HUT Ke 81 RI di Sampit.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Upacara HUT Ke 81 RI di Sampit.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

 

SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengingatkan bahwa perjuangan menjaga kemerdekaan saat ini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata. Menurutnya, tugas generasi sekarang adalah mengisi kemerdekaan melalui pembangunan, pelayanan publik, menjaga persatuan hingga melindungi lingkungan.

Pesan tersebut disampaikan Halikinnor dalam pidatonya pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Stadion 29 Nopember Sampit, Senin, (17/8/2026).

Ia menegaskan, kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan harus dipandang sebagai amanah yang wajib dijaga dan dilanjutkan melalui kerja nyata.

“Perjuangan kita hari ini bukan lagi mengangkat senjata, tetapi mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata. Membangun, memberikan pelayanan terbaik, menjaga persatuan, melindungi lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: Merah Putih Berkibar di Lokasi Karhutla,Relawan Palangka Raya Minta Pemerintah Pusat Lebih Perhatian

Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada jajaran TNI, Polri, Satpol PP, camat, lurah, kepala desa, ketua RW, ketua RT, serta masyarakat yang selama ini turut menjaga keamanan dan ketertiban di Kotim.

Halikinnor juga mengajak masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang berpotensi memecah persatuan. Setiap persoalan, kata dia, sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah.

“Mari kita cegah konflik, selesaikan persoalan dengan musyawarah, dan jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah persatuan,” katanya.

.
.

Di sisi lain, Halikinnor mengakui pekerjaan pembangunan di Kotim masih panjang. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, perekonomian masyarakat dan kesempatan bagi generasi muda masih menjadi pekerjaan yang harus terus dilakukan.

Pembangunan tersebut, lanjutnya, juga harus menyentuh desa dan wilayah pelosok. Ia ingin masyarakat dapat merasakan dampak pembangunan secara langsung, mulai dari jalan yang lebih baik hingga pelayanan publik yang mudah dan cepat.

“Kita ingin masyarakat merasakan perubahan yang nyata. Jalan yang lebih baik, pelayanan publik yang mudah dan cepat, pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang memadai, dan kesejahteraan yang semakin baik,” tegasnya.

.
.

Dalam kondisi anggaran yang terbatas, Halikinnor meminta pemerintah tidak menjadikan keterbatasan tersebut sebagai alasan untuk mengurangi semangat bekerja. Menurutnya, pemerintah harus semakin efisien dan cermat dalam menentukan program prioritas.

“Namun keterbatasan tersebut tidak boleh membatasi semangat kita untuk bekerja. Pemerintah harus semakin efisien, cermat, dan berani menentukan prioritas,” ujarnya.

Selain pembangunan, Halikinnor turut menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menegaskan penanganan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.

“Kita membutuhkan kesiapsiagaan pemerintah, dukungan dunia usaha, peran para tokoh, kepedulian generasi muda, dan terutama kesadaran setiap masyarakat, agar penanganan karhutla dapat berjalan maksimal,” katanya.

Baca Juga: Pesan Rudiyansah Superman di Momen Hari Kemerdekaan Indonesia: Saya Akan Lawan!

Ia mengingatkan bahwa pencegahan harus menjadi prioritas karena dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga kualitas udara, kesehatan dan perekonomian masyarakat.

“Mencegah lebih baik daripada memadamkan. Menjaga alam berarti menjaga kesehatan, menjaga ekonomi, dan menjaga masa depan generasi kita,” tegas Halikinnor.

Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, ia menilai Kotim memiliki modal sosial yang kuat melalui semangat gotong royong atau Habaring Hurung. Semangat tersebut dinilainya menjadi kekuatan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan daerah.

“Habaring Hurung bukan sekadar ungkapan. Habaring Hurung adalah jati diri kita, dan merupakan pesan yang dititipkan nenek moyang kita agar terus semangat untuk saling membantu, saling menguatkan, dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar,” tuturnya.

Halikinnor kemudian mengajak seluruh elemen daerah mengambil peran masing-masing. Pemerintah bekerja, masyarakat bergerak, dunia usaha berkontribusi dan generasi muda berkarya.

Ia menegaskan perbedaan suku, agama, budaya maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk memecah masyarakat Kotim.

.
.

“Kita boleh berbeda suku, agama, budaya, dan latar belakang. Tetapi kita memiliki rumah yang sama yaitu Kotawaringin Timur,” katanya.

Menurut Halikinnor, momentum HUT ke-81 RI harus menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah merupakan tanggung jawab bersama. Ia mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan sekaligus memastikan pembangunan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.(*)

“Mari kita jadikan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum untuk memperkuat tekad dan kebersamaan,” pungkasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
hut ke 81 ri hut kemerdekaan ri halikinnor kerja nyata