Pesepeda Cewek Sampai Ketakutan Usai Alami Catcalling di Terowongan Nur Mentaya

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:12 WIB
Seorang cewek di Sampit alami dugaan catcalling.(Screenvideo)
Seorang cewek di Sampit alami dugaan catcalling.(Screenvideo)


SAMPIT – Seorang cewek di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengaku mengalami dugaan catcalling dan tindakan mengikuti saat bersepeda seorang diri menuju kawasan Smekto, Terowongan Nur Mentaya, beberapa waktu lalu.

Peristiwa tersebut membuat korban merasa tidak aman hingga akhirnya memilih mencari perlindungan di sebuah booth minuman. Korban menduga pengendara sepeda motor yang berada di belakangnya sengaja mengikuti dan mengajaknya berbicara dengan nada menggoda.

Kepada Kaltengpos.jawapos.com, korban yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menceritakan, saat itu dirinya bersepeda seorang diri setelah teman yang sebelumnya berencana ikut membatalkan perjalanan.

Dari arah Jalan MT Haryono, korban kemudian menuju kawasan Smekto untuk mengantarkan pesanan minuman kepada temannya.

Situasi mulai terasa berbeda ketika korban memasuki kawasan Jalan Lampu-Lampu, tidak jauh setelah melewati Bundaran Bumi Raya.

Saat itu hari mulai petang. Korban menyadari ada sebuah sepeda motor yang terus berada di belakangnya.

Awalnya, ia mengira pengendara motor tersebut hendak menyalip. Korban pun memilih menepi agar kendaraan itu bisa melintas.

Namun, motor tersebut justru tidak kunjung menyalip.

“Awalnya aku kira motornya mau menyalip, makanya aku sudah minggir. Tapi ternyata tidak lewat-lewat,” ujar korban saat dihubungi, Rabu (19/8/2026).

Kecurigaan korban semakin muncul ketika ia menoleh. Pengendara motor tersebut disebut justru mulai mengajaknya berbicara.

Korban memilih tidak merespons. Namun, pengendara tersebut disebut masih melontarkan sejumlah pertanyaan dan komentar bernada menggoda.

“Yang aku ingat, dia bilang, ‘Kenapa sepeda sorangan ja? Mana kawannya? Kenapa kamu naik sepeda? Apa kamu kena kutukarkan motor ja kah?’” tuturnya.

Mulai Merasa Takut, Korban Merekam

Merasa situasi semakin tidak nyaman, korban kemudian mengambil telepon genggam dan mulai merekam pengendara tersebut.

Alih-alih segera meninggalkan lokasi, pengendara itu disebut masih berusaha mengajak korban berbicara.

“Aku sudah merasa sangat tidak nyaman. Jadi aku ambil HP dan mulai merekam. Tapi dia bukannya langsung pergi, malah masih tetap bepander, ngomong tidak jelas,” katanya.

Korban kemudian melihat Booth Kopi Fullup di depan. Ia langsung memutuskan untuk berhenti dan masuk ke lokasi tersebut.

Kebetulan, pemilik booth yang juga merupakan rekan kerja korban sedang berada di tempat.
Kehadiran orang lain membuat korban merasa lebih aman. Sementara pengendara motor yang sebelumnya berada di belakangnya akhirnya meninggalkan lokasi.

“Owner Fullup itu kebetulan teman kerja aku dan lagi ada di sana. Dia juga sempat bingung karena melihat aku seperti diikuti. Mungkin karena melihat ada orang, akhirnya oknum itu langsung pergi,” ungkapnya.

 

Bukan Kali Pertama Terjadi

Korban berharap kejadian serupa tidak dianggap sebagai candaan biasa. Menurutnya, seseorang yang sudah menunjukkan ketidaknyamanan seharusnya tidak terus diikuti atau diajak berbicara oleh orang yang tidak dikenal.

“Kadang orang menganggap cuma sekadar bercanda atau ngajak bicara. Tapi ketika seseorang terus mengikuti dan kita sudah menunjukkan tidak mau merespons, itu sudah bikin tidak nyaman dan takut,” pungkasnya.

Ia juga mengingatkan perempuan yang beraktivitas seorang diri di jalan agar meningkatkan kewaspadaan. Jika merasa diikuti atau mengalami gangguan dari orang tak dikenal, korban menyarankan segera mencari tempat yang ramai dan aman.

Kejadian tersebut juga disebut bukan pertama kalinya terjadi di kawasan tersebut. Beberapa waktu sebelumnya, seorang perempuan lain mengaku mengalami catcalling ketika sedang berolahraga di kawasan yang sama. Pengalaman tersebut bahkan sempat direkam dan videonya beredar di media sosial.

Catcalling Bukan Sekadar Candaan

Catcalling merupakan bentuk pelecehan seksual nonfisik di ruang publik yang dapat berupa siulan, panggilan, komentar, atau ucapan bernada seksual maupun menggoda kepada seseorang.

Tindakan tersebut tidak semestinya dianggap sebagai pujian atau candaan apabila membuat orang yang menjadi sasaran merasa risih, takut, terintimidasi, atau tidak aman.
Karena itu, masyarakat diharapkan menghormati ruang pribadi orang lain, termasuk ketika berada di jalan maupun ruang publik.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
catcalling pelecehan seksual Terowongan Nur Mentaya