SAMPIT – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi kendala keterbatasan sumber air dan armada pemadam.
Kondisi ini mendorong sejumlah perusahaan sawit dan masyarakat ikut membantu BPBD Kotim dalam memenuhi kebutuhan suplai air di lapangan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat adanya tambahan armada mobil tangki dari perusahaan untuk mendukung operasi pemadaman. Salah satunya berasal dari Wilmar Group yang baru mengerahkan satu unit mobil tangki.
Baca Juga: MPA Desa Begendang Tengah Diperkuat Perusahaan Sawit, Penanganan Karhutla Makin Terarah
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan bantuan tersebut sangat membantu, terutama untuk menyuplai air ke lokasi kebakaran yang sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan sumber air.
“Ini tadi baru masuk ada dari Wilmar Group satu unit tangki, dan unit tangki ini sangat membantu nanti untuk suplai. Selanjutnya ada juga dari PT SAS, itu juga membantu,” kata Multazam.
Multazam menjelaskan, BPBD Kotim saat ini mengerahkan 22 unit water tank untuk mendukung penanganan karhutla. Jumlah tersebut belum termasuk armada bantuan dari instansi maupun pihak lainnya.
Menurutnya, kebutuhan armada dan suplai air menjadi semakin penting karena karakter kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran di lahan biasa.
Api di lahan gambut tidak hanya membakar permukaan. Kobaran dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah dengan kedalaman mencapai satu hingga dua meter sehingga proses pemadaman membutuhkan pasokan air yang cukup dan dilakukan secara berulang.
“Kalau di gambut itu apinya tidak hanya di permukaan. Bisa merambat di bawah sampai kedalaman satu sampai dua meter,” jelasnya.
Masyarakat Turut Bantu Pemadaman
Dukungan terhadap penanganan karhutla juga datang dari masyarakat. Sejumlah warga bahkan menggunakan kendaraan double cabin milik pribadi untuk membantu petugas di lapangan.
Keterlibatan masyarakat terutama dirasakan pada akhir pekan ketika kekuatan personel dan armada BPBD lebih terbatas.
“Ada juga masyarakat-masyarakat secara mandiri yang mempunyai unit double cabin, pada hari Sabtu dan Minggu di mana kami sangat terbatas, mereka ikut hadir,” ujarnya.
Multazam berharap keterlibatan perusahaan, masyarakat dan berbagai unsur lainnya terus diperkuat. Tingginya kejadian karhutla membuat penanganan tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan BPBD.
Perusahaan Diminta Siapkan Embung Portabel
Selain bantuan armada tangki, BPBD Kotim juga mendorong perusahaan yang wilayah konsesinya berbatasan dengan lokasi rawan kebakaran untuk menyiapkan embung portabel.
Keberadaan embung di sekitar batas konsesi dinilai penting sebagai cadangan sumber air sekaligus langkah antisipasi apabila api bergerak mendekati kawasan permukiman atau wilayah lainnya.
“Kalau itu kemudian berbatasan dengan pemilik konsesi, pemilik konsesi memastikan di perbatasan akhir mereka, mereka akan menyediakan embung-embung portable,” kata Multazam.
Dengan tersedianya sumber air di dekat lokasi rawan, proses pembasahan lahan dan pemadaman diharapkan dapat dilakukan lebih cepat. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya untuk mencegah api meluas ke kawasan lain.
BPBD Kotim menilai sinergi antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat menjadi kunci menghadapi karhutla, terutama di tengah kondisi lahan gambut yang kering dan keterbatasan sumber air.(*)
Editor : Agus Pramono