Kabut Asap Tebal Kembali Kepung Sampit, Aktivitas Sekolah Mulai Terdampak

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 11:05 WIB
Aktivitas di sekolah dasar di Sampit terdampak kabut asap.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)
Aktivitas di sekolah dasar di Sampit terdampak kabut asap.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)

 

SAMPIT – Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (18/9/2026) pagi.

 Kondisi ini mulai mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah.

Sejak pagi, asap terlihat cukup pekat hingga mengurangi jarak pandang. Kondisi tersebut juga membuat sebagian warga sekolah mulai khawatir terhadap kesehatan siswa dan guru, terutama terkait gangguan pernapasan.

Kepala SDN 6 Ketapang, Dasuki, mengatakan kondisi kabut asap pada pagi hari kali ini berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Pada pukul 07.30 WIB, saat kegiatan belajar biasanya dimulai, asap masih cukup tebal.

“Biasanya pembelajaran dimulai pukul 07.30 WIB. Namun sekarang pada pukul 07.30 WIB kabut masih cukup tebal. Karena itu, kami bersama para guru akan mempertimbangkan apakah jam masuk perlu diundur menjadi pukul 08.00 WIB,” katanya.

Menurutnya, apabila kondisi semakin parah, pembelajaran dari rumah juga menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan. Namun, penerapannya harus menunggu arahan resmi dari Dinas Pendidikan dan dilakukan secara terkoordinasi.

“Kalau kondisinya semakin parah, tentu ada kekhawatiran terhadap siswa yang tidak kuat menghadapi kondisi seperti ini. Karena itu, pembelajaran dari rumah bisa menjadi salah satu pilihan, tetapi kami tetap menunggu instruksi resmi,” ujarnya.

Dasuki menyebut dampak asap mulai dirasakan oleh para guru, khususnya terhadap pernapasan.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan siswa yang mengalami gangguan kesehatan yang secara langsung dikaitkan dengan kabut asap.

“Yang kami rasakan, termasuk para guru, asap ini memang sangat mengganggu, terutama untuk pernapasan,” katanya.

Sementara itu, salah seorang siswa sempat mengalami kondisi kurang sehat dan meriang sehingga diminta pulang untuk beristirahat.

Kondisi kabut asap tersebut menjadi perhatian karena pada saat yang sama aktivitas masyarakat dan anak-anak sekolah masih berlangsung di luar rumah.

Sebelumnya, berdasarkan pemantauan kualitas udara di Kota Sampit, kondisi udara sempat masuk kategori berbahaya dengan konsentrasi PM10 mencapai 694. Jarak pandang juga dilaporkan hanya sekitar 100 meter pada pukul 08.00 WIB.

Kabut asap merupakan dampak dari karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. 

Kondisi udara dapat berubah cepat bergantung pada arah angin dan perkembangan titik api.

Pihak sekolah pun memilih menunggu arahan pemerintah sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut terkait perubahan pola pembelajaran.

“Kami menunggu surat edaran resmi karena ini menyangkut kepentingan banyak orang. Apa pun kebijakannya nanti tentu akan kami ikuti bersama,” pungkasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
sekolah terdampak asap kabut asap pjj sampit