SAMPIT – Dua ekor trenggiling ditemukan mati mengenaskan di lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau. Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (20/9/2026).
Kedua satwa dilindungi tersebut ditemukan para aktivis lingkungan Sampit saat melakukan penyisiran untuk mencari satwa terdampak karhutla. Hal itu menambah daftar hewan dilindungi yang tewas terbakar akibat Karhutla.
Aktivis lingkungan Sampit, Harie, mengatakan kedua bangkai trenggiling ditemukan pada lokasi berbeda. Satu bangkai ditemukan di areal yang telah terbakar, sedangkan satu lainnya berada tidak jauh dari lokasi tersebut.
“Kami menemukan dua ekor trenggiling ini di lokasi yang berbeda. Satu berada di lokasi yang sudah terbakar, sedangkan satunya lagi tidak jauh dari tempat tersebut,” katanya.
Baca Juga: Seekor Tenggiling Mati Mengenaskan Akibat Amukan Karhutla Sampit
Kondisinya cukup mengenaskan. Satu trenggiling yang berukuran besar nampak gosong hingga menyisakan ekor. Sementara bagian dada hingga kepala hanya tersisa tulang.
Sementara itu, trenggiling yang lain sudah tak berbentuk. Hanya nampak sisik dan tulang belulang saja yang tersisa. Diperkirakan trenggiling itu masih fase anakan menuju dewasa.
“Kalau dilihat, seluruh tubuhnya hampir 100 persen terbakar. Trenggiling biasanya melindungi tubuhnya dengan cara menggulung ketika menghadapi bahaya. Bagian tubuhnya menjadi tertutup, sementara bagian punggung justru paling banyak terkena api,” jelasnya.
Harie memperkirakan kedua trenggiling tersebut mati pada waktu berbeda. Trenggiling berukuran lebih besar diperkirakan mati sekitar sepekan sebelumnya.
Sedangkan yang berukuran lebih kecil diperkirakan mati sekitar dua hari sebelum ditemukan.
“Yang besar diperkirakan mati sekitar satu minggu lalu, sedangkan yang kecil sekitar dua hari lalu. Satu merupakan trenggiling dewasa, sementara satunya lagi masih juvenil,” ungkapnya.
Harie menjelaskan, berdasarkan pengamatan di lapangan, api diduga berasal dari kawasan Desa Batuah dan Kemapit. Kobaran api kemudian menjalar menuju Terantang Hilir karena kondisi angin yang cukup kencang.
Ia menambahkan, penemuan dua bangkai trenggiling tersebut memperkuat dugaan bahwa karhutla telah memberikan dampak serius terhadap satwa liar. Selain trenggiling, sejumlah jenis reptil dan mamalia juga ditemukan terdampak kebakaran.
“Untuk reptil, sudah banyak yang terdampak, seperti ular sawah, king cobra, piton, dipong dan biawak. Satwa-satwa ini tidak memiliki kemampuan berlari secepat mamalia sehingga lebih sulit menyelamatkan diri ketika api mengepung,” ujarnya.
Harie mengatakan, aktivis lingkungan secara rutin melakukan patroli, pemantauan dan penyisiran setelah api mulai padam atau memasuki tahap pendinginan.
Langkah tersebut dilakukan untuk menyelamatkan satwa yang masih hidup maupun menemukan satwa yang menjadi korban kebakaran.
Pria yang akrab dikenal sebagai Amang Rimba Borneo itu menyebut, bangkai satwa yang ditemukan biasanya dikuburkan di lokasi atau dibawa ke basecamp.
Apabila satwa tersebut termasuk jenis yang dilindungi, pihaknya akan berkoordinasi dengan BKSDA Pos Sampit.
“Kalau menemukan hewan yang sudah mati, biasanya langsung kami kuburkan di lokasi atau dibawa ke basecamp. Untuk satwa yang dilindungi, kami berkonsultasi dengan BKSDA Pos Sampit,” katanya.
Ia menyebut penguburan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap satwa yang menjadi korban kebakaran.
“Ini merupakan bentuk simpati dan penghormatan terakhir kepada hewan tersebut. Kami bergerak sebagai pecinta satwa dan aktivis lingkungan yang fokus pada upaya perlindungan serta kelestarian satwa,” imbuhnya.
Bangkai Diserahkan ke BKSDA Pos Sampit
Sementara itu Komandan Pos BKSDA Sampit, Muriansyah, mengatakan dua trenggiling tersebut telah diserahkan pada Minggu (20/9/2026) sore.
Setelah diterima, kedua bangkai satwa dilindungi itu kemudian dikuburkan di wilayah Kecamatan Baamang.
“Kami menerima penyerahan dua ekor trenggiling yang sudah mati. Selanjutnya, kami kuburkan di sekitar wilayah Kecamatan Baamang,” katanya.
Menurutnya, dampak karhutla terhadap satwa liar di sejumlah wilayah Kotim cukup serius. Selain trenggiling, beberapa satwa dilindungi lainnya juga dilaporkan menjadi korban.
“Di wilayah Kotim, banyak satwa liar yang ditemukan dalam kondisi mati. Bahkan hewan dilindungi seperti trenggiling ini,” ujarnya.
Muriansyah menjelaskan, kawasan Seranau memiliki wilayah yang menjadi habitat berbagai satwa liar.
Di kawasan tersebut terdapat wilayah restorasi ekosistem, sementara di luar kawasan itu terdapat areal perkebunan masyarakat yang juga terdampak kebakaran.
“Khusus di Kecamatan Seranau, terdapat perusahaan restorasi ekosistem. Wilayah tersebut memang merupakan habitat satwa liar. Di luar wilayah restorasi ekosistem itu merupakan areal kebun masyarakat, dan di lokasi kebun masyarakat tersebut banyak ditemukan kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kawasan restorasi ekosistem PT Rimba Makmur Utama (RMU) tidak hanya menjadi habitat orangutan, tetapi juga berbagai satwa liar yang dilindungi.
“Di wilayah restorasi ekosistem PT Rimba Makmur Utama itu merupakan habitat orangutan, dan bukan hanya orangutan, tetapi juga berbagai jenis satwa liar yang dilindungi,” katanya. (*)
Editor : Agus Pramono