SAMPIT – Seekor trenggiling kembali ditemukan di Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Lokasi penemuan itu berada tak jauh dari lokasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan trenggiling itu dilaporkan oleh pihak PT Rimba Makmur Utama (RMU) pada Minggu (20/9/2026) malam.
“Temuan teman-teman tim pemadam PT RMU. Saya minta tolong Mas Harie (aktivis lingkungan) dan kawan-kawan untuk mengamankan. Karena saya posisinya di Palangka Raya,” ujarnya saat dikonfirmasi Kaltengpos.jawapos.com.
Baca Juga: Dua Bangkai Trenggiling Ditemukan di Tengah Karhutla Terantang Hilir Kotim
Kondisi trenggiling itu diketahui masih hidup. Dari video yang dikirim, hewan dilindungi itu tampak terjepit batang kayu. Usai berhasil diamankan, hewan itu dibawa ke basecamp PT RMU.
“Alhamdulillah masih hidup. Diamankan terlebih dulu ke basecamp PT RMU yang ada di Desa Terantang,” jelasnya.
Trenggiling tersebut saat ini dalam kondisi baik dan tidak menunjukkan adanya masalah yang memerlukan perawatan khusus.
“Kalau trenggiling, saya balik sore ini, besok mungkin sudah saya terima. Karena kondisinya baik, itu akan segera,” kata Muriansyah.
Nantinya, trenggiling itu akan diserahkan ke BKSDA untuk dilepasliarkan. Trenggiling yang diamankan itu tidak mengalami luka maupun kondisi lain yang mengharuskannya menjalani perawatan dalam waktu lama.
“Kalau trenggiling, itu diusahakan secepatnya (dilepas). Kenapa? Karena kondisinya tidak ada masalah, misalkan luka atau apa, tidak ada,” ujarnya.
Muriansyah mengatakan, pelepasliaran perlu dilakukan secepatnya apabila kondisi satwa memang sudah memungkinkan. Hal itu untuk menghindari stres akibat terlalu lama berada di luar habitat alaminya.
“Kalau trenggiling lambat (dilepas), dia akan stres. Makanya sebaiknya kalau memang tidak ada masalah, dilepasliarkan,” jelasnya.
BKSDA Pos Sampit selanjutnya akan memastikan proses penanganan dan pelepasliaran trenggiling tersebut berjalan dengan baik agar satwa kembali ke habitat alaminya. (*)
Editor : Agus Pramono