SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) turut mengancam keberlangsungan satwa liar. Api yang menjalar ke kawasan semak dan habitat alami membuat sejumlah satwa kehilangan ruang untuk mencari makan maupun berlindung.
Kondisi tersebut terpantau di sejumlah titik kebakaran. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit menerima laporan mengenai satwa dilindungi yang terdampak, baik ditemukan dalam kondisi hidup maupun tidak berhasil diselamatkan.
Baca Juga: Kasihan, Seekor Kukang Kabur dari Hutan Malah Kesetrum saat Hendak Masuk Permukiman Warga di Sampit
Salah satu lokasi yang cukup parah berada di Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau. Saat dilakukan penyisiran setelah kebakaran, aktivis lingkungan menemukan berbagai jenis satwa yang menjadi korban. Di antaranya pelanduk, rusa, burung raja udang, trenggiling, kucing hutan dan lutung abu-abu.
Dua ekor trenggiling bahkan ditemukan dalam kondisi hangus setelah kawasan tempat mereka berada dilalap api. Habitat di sekitarnya juga mengalami kerusakan akibat kebakaran.
Kepala BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan, keberadaan satwa di kawasan yang terbakar membuat risiko terhadap kehidupan mereka semakin tinggi. Menurutnya, ancaman tersebut tidak terbatas pada satu wilayah saja.
“Setiap kali terjadi kebakaran, satwa yang berada di sekitar lokasi otomatis ikut berada dalam situasi berbahaya. Jadi kasusnya tidak hanya kami temukan di Terantang, tetapi juga di sejumlah kawasan lainnya,” katanya, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: Karhutla Ancam Habitat Satwa, Asap Bisa Picu Konflik Orangutan dengan Manusia
Di Kecamatan Kota Besi, misalnya, laporan satwa terdampak juga muncul dari kawasan Kandan. BKSDA mendapat informasi mengenai keberadaan orangutan, kucing hutan hingga trenggiling di sekitar wilayah yang mengalami kebakaran.
Kasus lain terjadi pada seekor kukang yang diduga keluar dari habitatnya untuk menghindari ancaman api. Satwa tersebut kemudian mengalami insiden tersengat aliran listrik di kawasan permukiman. Meski sempat mendapatkan penanganan medis, kukang tersebut akhirnya mati.
Tidak seluruh satwa yang terdampak berakhir dengan kondisi serupa. BKSDA bersama pihak terkait juga telah melakukan penyelamatan terhadap sejumlah satwa yang ditemukan di tengah ancaman kebakaran.
Baca Juga: Dua Bangkai Trenggiling Ditemukan di Tengah Karhutla Terantang Hilir Kotim
Dua orangutan yang terdiri dari induk dan anak, Raya dan Rayu, berhasil dievakuasi dari kawasan Jalan Sawit Raya yang berada di sekitar Hutan Kota Sampit. Keduanya ditemukan di lokasi yang terdampak karhutla dan kemudian diamankan untuk mendapatkan penanganan.
Seekor trenggiling yang ditemukan di kawasan Jalan Bumi Raya 1, Kecamatan Baamang, juga berhasil diselamatkan. Satwa tersebut kemudian ditangani BKSDA Pos Sampit sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat yang sesuai.
Menurut Muriansyah, laporan mengenai satwa liar yang terdampak kebakaran juga terus bermunculan dari kawasan lain. Di antaranya Kecamatan Mentaya Hilir Utara dan Mentaya Hilir Selatan, dengan laporan keberadaan orangutan serta beruang di sekitar wilayah terdampak.
Baca Juga: Karhutla Mengamuk di Kotim, Seekor Ular Piton Mati Terpanggang
“Di wilayah Mentaya Hilir Utara dan Mentaya Hilir Selatan juga ada laporan mengenai satwa, termasuk orangutan dan beruang. Ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap satwa harus dilakukan di setiap lokasi yang mengalami kebakaran,” ujarnya.
Muriansyah menjelaskan, habitat satwa tidak selalu berupa kawasan hutan dengan pepohonan lebat. Area semak belukar yang berada di sekitar lahan masyarakat pun dapat menjadi ruang bagi satwa untuk mencari makanan dan bersembunyi.
Karena itu, penyisiran pascakebakaran dinilai penting untuk mengetahui kemungkinan masih adanya satwa yang terjebak, terluka atau berpindah ke kawasan permukiman akibat kehilangan habitatnya.
“Satwa bisa saja berada di kawasan semak atau lahan yang terlihat biasa bagi manusia. Tempat seperti itu tetap menjadi bagian dari ruang hidup mereka,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana