SAMPIT – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit berupaya menemukan seekor beruang yang dilaporkan mengalami cedera serius di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim).
Satwa yang diperkirakan masih berusia remaja hingga dewasa itu terlihat dalam sebuah video dalam kondisi mengenaskan. Salah satu kaki belakangnya mengalami luka berat, bahkan bagian telapak kaki kiri diduga telah terputus.
Baca Juga: Karhutla Kotim Ancam Satwa Dilindungi, Trenggiling hingga Orangutan Jadi Korban
Laporan mengenai keberadaan beruang tersebut diterima BKSDA pada Selasa (6/10/2026). Setelah melihat rekaman yang beredar, petugas kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan penelusuran.
Kepala BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan lokasi kemunculan satwa berada di sekitar aliran sungai atau parit di kawasan Gang Budi Mufakat.
“Video yang kami terima menunjukkan beruang itu berada di sekitar Jalan Tjilik Riwut Km 8, tepatnya di Gang Budi Mufakat, dekat sungai Pangaringan,” katanya, Rabu (7/10/2026).
Melihat bentuk dan kondisi luka pada kaki belakang, BKSDA menduga satwa tersebut sebelumnya terkena jerat. Dugaan sementara, jerat tersebut menggunakan material berupa seling baja yang dikenal masyarakat dengan sebutan jerat sisit.
“Kalau melihat lukanya, kemungkinan besar berkaitan dengan jerat. Biasanya menggunakan kawat atau seling baja yang di daerah sini dikenal sebagai jerat sisit,” ujarnya.
Baca Juga: Aktor Leonardo Di Caprio Soroti Karhutla Kalimantan, Orangutan Hingga Pembukaan Lahan
Muriansyah menduga beruang tersebut telah cukup lama berada dalam kondisi terjerat sebelum akhirnya berhasil melepaskan diri. Namun, jeratan itu diduga telah menyebabkan kerusakan serius pada kaki belakang sebelah kiri.
Petugas kemudian melakukan pencarian bersama sejumlah aktivis lingkungan. Penelusuran diarahkan ke kawasan perkebunan kelapa sawit dengan luas sekitar dua hektare di sekitar lokasi.
Namun, pencarian belum membuahkan hasil. Kondisi hari yang mulai gelap membuat tim memutuskan menghentikan penyisiran untuk sementara dengan mempertimbangkan keselamatan petugas.
Muriansyah menyebut beruang yang sedang terluka memiliki potensi bahaya lebih tinggi karena kondisi tersebut dapat membuat perilakunya sulit diprediksi.
Baca Juga: Dua Bangkai Trenggiling Ditemukan di Tengah Karhutla Terantang Hilir Kotim
“Beruang yang sehat saja harus diwaspadai, apalagi kalau sedang terluka. Karena itu ketika kondisi sudah gelap, pencarian kami hentikan dan akan dilanjutkan kembali,” jelasnya.
BKSDA juga belum dapat memastikan apakah satwa tersebut sebelumnya terdampak kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan. Menurut Muriansyah, kondisi itu baru bisa diketahui setelah beruang berhasil ditemukan dan diperiksa secara langsung.
“Untuk sementara yang bisa kami lihat adalah adanya luka yang mengarah pada dugaan jerat. Apakah ada kaitannya dengan kebakaran atau tidak, itu baru bisa diketahui setelah satwanya ditemukan,” katanya.
Keberadaan beruang di sekitar kawasan tersebut ternyata bukan kali pertama dilaporkan. Warga setempat sebelumnya juga beberapa kali melihat satwa liar tersebut berkeliaran di sekitar permukiman dan perkebunan.
Baca Juga: Karhutla Mengamuk di Kotim, Seekor Ular Piton Mati Terpanggang
Bahkan, warga mengaku pernah mendapati tanaman nanas mereka dimakan oleh beruang yang muncul di kawasan tersebut.
BKSDA Pos Sampit bersama aktivis lingkungan berencana kembali menyisir lokasi untuk mencari satwa yang terluka tersebut. Pencarian dilakukan dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas dan warga di sekitar kawasan. (*)
Editor : Ayu Oktaviana