SAMPIT – Kota Sampit memang tak pernah kehabisan cerita kuliner. Kali ini, ada camilan baru yang sukses mencuri perhatian.
Jika pisang goreng sudah biasa, kali ini buah nangka yang digoreng. Di Sampit kini hadir kuliner pisang nangka goreng madu.
Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam, dengan manis madu yang meresap, membuat siapa pun sulit berhenti setelah gigitan pertama.
Jajanan unik ini bisa ditemukan di sebuah kedai sederhana di Jalan Bumi Raya I, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang.
Di sanalah, Imam Muarif dan istrinya, meracik resep rahasia yang belakangan jadi buah bibir warga Sampit. Meski baru berjalan dua bulan, pembelinya sudah antre setiap hari.
“Kalau pisang nangka ini banyak yang penasaran. Mereka bisa pilih campuran pisang dan nangka, atau salah satunya saja. Untuk nangka, kami ambil dari daerah Cemaras karena kualitas buahnya lebih segar.
Sedangkan pisangnya, kami pakai jenis kepo atau talas yang pas untuk digoreng,” tutur imam, Rabu (27/8/2025) sore.
Kelezatan jajanan ini ternyata bukan kebetulan. Imam dan istrinya memang sudah lama bergelut di dunia kuliner.
Berawal dari hobi mencicipi berbagai makanan hingga pengalaman mengelola restoran, keduanya ingin menghadirkan hidangan yang terjangkau namun tetap berkelas.
“Biasanya menu resto kan harganya cukup mahal, jadi tidak semua orang bisa menikmati. Nah, lewat pisang nangka goreng madu ini, kami ingin masyarakat luas bisa merasakan kualitas ala resto, tapi dengan harga ramah di kantong,” tambahnya.
Pilihan menunya memang sederhana ada pisang dan nangka. Tapi jangan salah, ada enam varian rasa yang bisa dipilih yaitu original, keju, cokelat, tiramisu, matcha, dan gula aren.
Soal harga pun bersahabat, mulai Rp12 ribu per kotak untuk isi nangka atau pisang, hingga Rp17 ribu untuk varian keju.
Tak heran, penjualan hariannya bisa mencapai 60 kotak dalam sehari untuk nangka goreng madu dan 30 kotak untuk pisang goreng.
Bahkan pembeli tak hanya datang dari Sampit, melainkan juga Kuala Pembuang hingga Pangkalan Bun. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 15 kilogram buah nangka.
Buah itu didatangkan langsung dengan posisi segar dari Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga.
“Alhamdulillah respon masyarakat luar biasa. Banyak yang rela jauh-jauh datang hanya untuk mencoba. Itu jadi penyemangat kami untuk terus berkreasi,” katanya.
Sebagai pelaku UMKM, ia juga mendorong pengusaha kecil lainnya agar tidak berhenti berinovasi dan terus membaca peluang pasar.
Imam berharap dukungan pemerintah daerah juga semakin besar, terutama dalam hal perizinan dan regulasi, sehingga UMKM di Kotim bisa makin maju bersama.
“Kami sesama pelaku usaha kecil harus saling dukung. Dengan begitu, kita bisa tumbuh bersama. Tapi tentu kami juga butuh dorongan dari pemerintah agar jalan UMKM lebih mudah,” pungkasnya. (mif/ram)
Editor : Agus Pramono