Mengapa Bubur Asyura Dibuat dari Puluhan Bahan? Ini Makna yang Terkandung di Dalamnya
Miftahul Ilma• Kamis, 25 Juni 2026 | 18:45 WIB
Bubur Asyura selalu muncul di 10 Muharram.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)SAMPIT – Di balik ribuan bungkus bubur Asyura yang dibagikan kepada masyarakat tersimpan makna tentang kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama. Tradisi yang digelar setiap 10 Muharam itu menjadi momen untuk mempererat silaturahmi sekaligus berbagi rezeki. Bagi sebagian masyarakat, bubur Asyura bukan hanya sekadar hidangan khas yang muncul setahun sekali. Proses pembuatannya yang dilakukan bersama-sama menjadi bagian penting dari tradisi, karena melibatkan gotong royong warga sebelum makanan tersebut dibagikan kepada masyarakat.
Tradisi itu juga terlihat di Masjid Kota Almadinatul Mubarokah, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Grup grup Burdah Al Banjari dan Dalaillunnisa Al Banjari kembali melaksanakan kegiatan memasak dan membagikan bubur Asyura secara gratis pada momentum 10 Muharam kali ini. Panitia pelaksana, Nana, mengatakan kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap tahun sebagai bentuk berbagi kepada masyarakat. Menurutnya, siapa pun yang datang dipersilakan mengambil bubur yang telah disiapkan.Ia menjelaskan, bubur Asyura yang dibuat memiliki ciri khas dengan banyak campuran bahan. Tahun ini, panitia menggunakan sekitar 150 kilogram beras, 10 kilogram ayam, serta daging sapi sebagai bahan pelengkap.“Jadi bubur Asyura ini ada 41 macam sayur, berasnya sekitar 150 kilo, dan ada ayamnya sekitar 10 kilo. Yang besar itu sapi, jadi ada dua macam, sapi dengan ayam,” katanya, Kamis (25/6/2026). Dalam tradisi masyarakat Banjar, penggunaan banyak bahan dalam bubur Asyura menjadi ciri khas yang terus dipertahankan. Berbagai bahan yang disatukan dalam satu hidangan dianggap menggambarkan keberagaman yang berpadu menjadi satu. Nana menyebut, makna utama dari kegiatan tersebut adalah berbagi dan berharap kebaikan. Tradisi itu juga menjadi bentuk doa agar masyarakat diberikan keselamatan serta dijauhkan dari berbagai musibah.“Maknanya berbagi untuk semua orang. Orang dulu sebelum memasuki Muharam selalu membuat bubur Asyura yang katanya terdiri dari 41 macam. Semoga dengan kita mengadakan ini, apa pun bala atau musibah bisa dijauhkan,” ungkapnya.Pembagian bubur Asyura pun mendapat antusiasme masyarakat. Warga datang membawa wadah sendiri dari rumah untuk mengambil bubur yang sudah disiapkan panitia.Nana memperkirakan lebih dari lima ribu bungkus bubur Asyura dibagikan dalam kegiatan tersebut. Seluruh biaya berasal dari patungan pribadi para anggota yang ingin ikut menjaga tradisi tersebut.“Lebih dari lima ribu bungkus. Ada yang membawa wadah sendiri, ada juga yang menggunakan kantong. Dana dari pribadi, Alhamdulillah,” jelasnya.Ia berharap tradisi itu dapat terus dilaksanakan setiap tahun agar nilai kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi tetap hidup di tengah masyarakat.“Insya Allah semoga setiap tahun kami bisa melaksanakan ini, karena sudah beberapa tahun ini kami adakan di masjid sini,” pungkasnya. (*) Editor : Ayu Oktaviana