PALANGKA RAYA-Di tengah rimba Kalimantan yang lebat dan lembap, ada satu sosok langka yang terus hidup dalam-misteri.
Alba, satu-satunya orangutan albino di dunia. Dikenal dengan bulu putih pucat dan mata kebiruan yang memantulkan cahaya hutan, Alba bukan hanya simbol keunikan alam, tetapi juga lambang keberhasilan konservasi orangutan Indonesia.
Delapan tahun berlalu sejak Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melepasliarkannya ke kawasan hutan yang aman.
Kini, Alba diyakini masih bertahan di alam liar, meski keberadaannya semakin sulit dipantau karena berpindah ke area yang lebih dalam dan jarang dijangkau manusia.
Kepala BKSDA Kalimantan Tengah Andi Kadafi mengatakan, sejak pelepasliaran pada 2017, tim BOSF dan BKSDA rutin melakukan pemantauan menggunakan sistem pelacakan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sinyal dan tanda keberadaan Alba semakin jarang terdeteksi.
“Kemungkinan besar Alba telah menemukan wilayah jelajah barunya yang lebih nyaman. Lokasinya cukup jauh dari titik pengamatan, tapi berdasarkan hasil pemantauan terakhir, ia masih berada dalam kondisi aman. Hingga kini belum menemukan lagi ada orangutan yang seperti Alba,” ujarnya, Jumat (7/11/2025).
Menurutnya, pergerakan Alba merupakan hal yang wajar bagi orangutan yang sudah lama beradaptasi dengan lingkungan liar.
Ia menambahkan, pihaknya tetap melakukan pemantauan secara berkala bersama BOSF untuk memastikan keselamatan satwa langka tersebut.
Sebagai informasi, kisah Alba bermula pada 2017, ketika ia ditemukan di sebuah desa di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, dalam kondisi lemah dan dipelihara warga.
Warna bulunya yang putih dan kulit sensitif langsung menarik perhatian para peneliti. Setelah diselamatkan dan menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Alba akhirnya dilepasliarkan bersama seekor betina bernama Kika ke kawasan konservasi.
Sejak saat itu, Alba menjadi sorotan dunia. Ia tercatat sebagai satu-satunya orangutan albino yang pernah ditemukan di bumi, kasus langka dalam sejarah primatologi.
Ciri fisik yang mencolok, dari bulu hingga matanya, menunjukkan kelainan genetik yang jarang terjadi, namun tak mengurangi kemampuannya bertahan hidup di alam liar.
Keberadaan Alba membawa pesan kuat bagi dunia konservasi. Ia menjadi pengingat bahwa setiap upaya penyelamatan satwa liar, sekecil apa pun, dapat memberi harapan besar bagi kelestarian alam.
Hutan Kalimantan bukan hanya rumah bagi spesies endemik, tetapi juga tempat bagi kisah-kisah ajaib seperti milik Alba.
Dengan pemantauan yang tetap dijaga, pihaknya berharap Alba akan terus menjadi bagian dari ekosistem Kalimantan.
Putih di antara hijau rimba, ia menjadi penanda bahwa keajaiban alam masih nyata, sekaligus pengingat bahwa tugas manusia menjaga hutan belum selesai. (ovi)
Editor : Anisa Bahril Wahdah