RAMAI menjadi perdebatan sengit warganet terkait film animasi baru berjudul Merah Putih One for All, film animasi yang diproduksi khusus untuk merayakan HUT ke-80 RI.
Warganet mengomentari terkait kualitas animasi film itu yang dinilai tidak sepadan dengan biaya produksinya yang fantastis.
Kontroversi ini memuncak setelah pihak produser mengungkap bahwa film ini menelan biaya hingga miliaran rupiah.
Melalui unggahan di akun Instagram resmi film pada Minggu (10/8/2025), Produser Eksekutif Sonny Pudjisasono menyebut bahwa film berdurasi 70 menit ini memakan biaya produksi hingga Rp6,7 miliar.
Banyak warganet, termasuk para praktisi di industri kreatif, merasa miris dengan hasil visual yang ditampilkan di trailer, yang dianggap tidak sesuai dengan bujetnya.
“Hah 7 M hasilnya gini doang??? Sorry wae pak, aku sebagai 3D Artist malu sih kalo namaku ditaroh credit. Jujur pak, artistnya kamu bayar berapa???? wkwkwk,” tulis seorang warganet dengan akun @fifiolut***.
Namun, ada pula yang mencoba memberikan perspektif lain dengan membandingkannya dengan film animasi blockbuster Indonesia lainnya.
“Oke lah biaya produksi 6,7m.. jangan bandingin sama film jumbo kualitas gambarnya, jumbo itu biaya produksinya sekitar 70m loh,” ungkap akun @aryapradi***.
Di balik kontroversinya, Merah Putih One for All mengusung misi patriotik.
Film ini mengisahkan petualangan delapan anak dari berbagai daerah yang harus bekerja sama menemukan bendera pusaka yang hilang tiga hari sebelum upacara 17 Agustus.
Film ini dijadwalkan akan tayang di bioskop mulai 14 Agustus 2025, dengan promo tiket spesial seharga Rp 17.000 pada tanggal 17 Agustus 2025.
Merah Putih One for All, bahkan sebelum tayang secara resmi, telah secara tidak sengaja memantik diskusi publik yang penting mengenai industri animasi di Indonesia.
Perdebatan sengit tentang alokasi bujet dan standar kualitas visual menunjukkan bahwa ekspektasi penonton terhadap karya anak bangsa kini semakin tinggi.
Nasib film ini di box office akan menjadi ujian, apakah pesan nasionalismenya mampu mengatasi kontroversi kualitas yang telah mendahuluinya. (jpc/abw)
Editor : Ayu Oktaviana