KERACUNAN akibat menyantap makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) dialami oleh para murid di SDN 12 Benua Kayong, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar).
Kepala Kepala SDN 12 Benua Kayong Dewi Hardina Febriani menjelaskan kronologi para muridnya terdampak keracunan masal usai menyantap MBG di sekolah.
Menu makanan yang disediakan di antaranya nasi, ikan filet hiu, sayur oseng, tahu goreng dan jeruk.
Kejadian bermula ketika beberapa murid mengeluh sakit perut dan muntah-muntah, usia menyantap makan siang MBG.
Tidak dialami satu orang, keluhan dialami oleh beberapa murid lainnya dengan gejala yang sama.
"Awalnya hanya beberapa anak yang sakit perut lalu muntah. Tapi makin lama makin banyak, jadi pihak puskesmas langsung datang ke sekolah. Mengingat kondisinya ramai, akhirnya anak-anak dibawa ke Puskesmas, lalu dirujuk ke RSUD dr. Agoesdjam atas arahan pihak medis," jelas Dewi, mengutip CNN Indonesia.
Dewi mengungkapkan ditemukan lauk MBG yakni nugget ikan hiu yang baunya menyengat dan sayur yang berlendir.
"Menunya (nugget) ikan hiu, cuma baunya agak menyengat. Sayurnya juga agak berlendir," ujar Dewi.
Menurut Dewi, makanan dibagikan sekitar pukul 09.30 WIB. Tak lama setelah itu, sekitar pukul 10.00 WIB, sejumlah siswa mulai menunjukkan gejala keracunan.
Terkait hal ini, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Mitra Mandiri 2 di Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang bakal dirumahkan.
Ia sudah dinonaktifkan setelah ada bebrapa murid SDN 12 Benua Kayong yang keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Informasi terbaru, jumlah siswa SDN 12 Benua Kayong yang keracunan mencapai 20 orang.
Mereka mengeluh sesak napas dan muntah-muntah usai menyantap makanan siang program MBG dan masih menjalani perawatan di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang.
Wakil Bupati Ketapang Jamhuri Amir meminta pengelola dapur harus bertanggungjawab atas kejadian ini.
"Ini yang harus dievaluasi. Pengelola dapur tidak boleh lepas tangan, harus ada pertanggungjawaban. Kita ingin tahu penyebab keracunan ini, apakah karena kurang pengawasan atau faktor lain," kata Jamhuri. (net/abw)
Editor : Ayu Oktaviana